HOME      ABOUT      CONTACT      INSTAGRAM

Monday, March 11, 2019

Kelahiran Manusaka

 
Beberapa saat setelah melahirkan Manusaka, saya langsung bilang ke ibu saya, “Pantes ya Bu, anak yang berani sama ibunya itu durhaka.”

Kelahiran Manusaka udah saya tunggu-tunggu sejak usia kehamilan 38 minggu. Tapi emang anak bayi mencari waktu lahirnya sendiri ya, jadi sampai usia kehamilan 38 mendekati 40 minggu belum ada tanda-tanda sama sekali dia mau ketemu ibu bapaknya. Saya jadi agak takut apa saya yang nggak menyadari rasa kontraksi atau nggak tahu jangan-jangan ketuban udah rembes. Untungnya pas kontrol ke DSOG di usia kehamilan 39 minggu semuanya masih sehat dan normal.

Cita-cita saya tentu saja melahirkan secara normal. Kembali ke kodrat wanita lah, kalau nggak ada sesuatu yang kurang normal saya yakin bisa. Saya belajar napas perut yang katanya bisa bantu melancarkan proses melahirkan, sampai nggak henti-henti yoga untuk buka panggul. Harapannya sih sesuai afirmasi yang saya tulis (melahirkan nyaman, normal, prosesnya cepat, dll).

Hari itu Sabtu 20 Oktober 2018, usia kehamilan saya 39 minggu 5 hari, seperti biasa kalau weekend saya pasti ditemani suami jalan-jalan sambil olahraga. Nggak ada yang aneh, semua masih seperti biasa. Kalau ngerasa tulang kemaluan disundul-sundul kan wajar karena kehamilan sudah cukup bulan, lagian saya merasakan itu udah dua minggu terakhir.

Pas tidur keanehanpun terjadi. Perut saya kram seperti waktu menstruasi. Dalam hati, “ini kali ya yang namanya kontraksi.” Kram yang saya rasakan memang berpola, hilang muncul dalam waktu 1-2 menitan. Sambil menahan kontraksi saya berusaha tidur. Nggak bisa! Wah, saya langsung hitung jarak kontraksi dengan aplikasi Kontraksi Nyaman Bidan Kita dan langsung ada notifikasi untuk segera menemui provider. Seperti inilah hasilnya.


Semalaman itu saya benar-benar nggak bisa tidur. Antara nahan kram atau excited mau ketemu anak bayi. Sampai akhirnya jam tiga pagi saya kebelet buang air kecil dan melihat ada flek darah. Yay, sebentar lagi ketemu Manu!

Meskipun degdegan dan ibu mertua udah mulai panik, saya menunggu dulu sebelum ke provider. Karena udah dapet ilmu waktu sesi yoga di ProV Clinic, saya mandi dulu (sambil nahan kontraksi), sarapan dulu, dan bedakan dulu.

Ketuban saya nggak rembes, jadi saya putuskan untuk melahirkan di bidan aja. Jam 7.30 saya sampai di bidan dan di VT ternyata udah bukaan 4. Senang bukan main! Saya berusaha jalan-jalan tapi ternyata kalau kontraksi lebih enak dibawa main birthing ball. Jam 10.30 di VT lagi udah langsung maju ke bukaan 8. Bidan provider saya ini sayangnya nggak sabar buat menggunting selaput ketuban saya yang ternyata masih tebal. Jam 11-an (entahlah saya udah mulai nggak fokus saking sakitnya ini kontraksi) masuk bukaan 10 saya mulai merasa ada yang mendorong-dorong dari dalam. Susah banget ngeden pakai teori pernapasan perut! Saya pasrah aja pas digunting perineum. Setelah 3 kali ngeden akhirnya Manusaka lahir. Begitu lahir, rasa sakit saya yang luar biasa tadinya itu langsung hilang gitu aja. Bener-bener magical moment! Beberapa saat setelah melahirkan Manusaka, saya langsung bilang ke ibu saya, “Pantes ya Bu, anak yang berani sama ibunya itu durhaka.”

Manusaka lahir 21 Oktober 2018 pukul 11.58. Kami memberi dia nama Gede Manusaka Abirama, Gede (anak pertama) Manusaka (berkesinambungan) Abirama (pembawa kebahagiaan). Semoga Manusaka menjadi anak yang selalu memberi kebahagiaan bagi keluarga dan sekitarnya.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Friday, October 19, 2018

How Many Outfits Do I Need in My Wardrobe?


Terinspirasi dari (lagi-lagi) postingan blog Kak Andra Alodita, saya tertarik ingin mencoba meminimalisasi jumlah pakaian dan aksesoris yang saya punya. Meskipun sejujurnya saya nggak punya terlalu banyak pakaian dan aksesoris (entah pembenaran atau emang iya) karena sudah sering men-“declutter” pakaian-pakaian saya.

Alasan utama saya ingin “mengkompres” lagi jumlah pakaian saya adalah karena merasakan susah dan ribetnya menggotong pakaian kesana kemari pas pindahan. Karena masih hidup nomaden dan belum tinggal di homebase yang tetap, hampir setiap 2 tahun sekali saya pasti berpindah tempat tinggal. Pas packing nyesek banget, selalu keteteran dan barang pribadi terutama pakaian membludak. Padahal sudah banyak yang saya hibahkan/buang. Sampai pas pindahan terakhir karena mau cuti lahiran suami saya protes dan menyarankan untuk meminimalisasi (lagi) jumlah pakaian.

Saya itu bisa dibilang jarang belanja baju, apalagi aksesoris. Tapi sekalinya nafsu belanja, langsung banyak dan bertubi-tubi. Apalagi pas musim-musim sale, semua toko disamperin. Sekarang sih sudah agak pintar, pas sale cuma membeli barang yang memang sudah diincar sejak masih jadi new arrival. Tapi tetap saja printilan-printilan barang lain masih banyak yang ikut kebeli. “Mumpung lagi sale”. Duh! bahaya banget deh! Adakah yang senasib dengan saya?

Sebenarnya, mau punya banyak (maximalist) atau sedikit barang (minimalist) sih bebas saja yang penting bertanggung jawab dan bisa mengelola barang-barangnya dengan baik. Kalau saya pribadi lebih tertarik menerapkan gaya minimalist. Teorinya, dengan memiliki sedikit barang (terutama pakaian), hidup kita akan jauh lebih mudah. Nah, menurut artikel yang saya kutip dari Becoming Minimalist, memiliki sedikit pakaian akan membuat kita:

·       Memiliki lebih banyak sisa penghasilan (!)
·       Memiliki lebih banyak waktu untuk hal lain dalam hidup
·       Nggak stress pagi-pagi mikirin mau pakai baju apa
·       Punya well-organized closet
·       Packing jadi lebih simpel saat bepergian, dan
·       Pekerjaan laundry jadi lebih simple

Nah, ini beberapa tips yang saya rangkum dari website yang sama, dengan penyesuaian seperlunya:

1.     Sadarlah kalau pakaianmu itu sudah banyak.
Ini nih yang sulit bagi para wanita di muka bumi ini. Selalu merasa nggak punya baju. Padahal baju di lemari sudah sampai tumpah-tumpah.

2.     Berusaha memahami karakter kepribadian.
Hubungannya apa? Berdasarkan pengalaman saya, memakai pakaian yang cocok dengan kepribadian kita akan sangat membantu. Kalau saya kebetulan sudah pernah melakukan test kepribadian yang mengarahkan saya untuk memakai pakaian berwarna netral dan kasual. Nggak neko-neko deh. Pantesan setiap saya ingin mencoba nyentrik dengan tabrak warna / print ujung-ujungnya fashion disaster. Akhirnya ini sangat membantu saya dalam memilih pakaian yang akan saya beli. Dan beneran kok, selain lebih nyaman, ternyata memilih pakaian sesuai kepribadian juga bisa lebih menonjolkan karakter diri. Semacam make your own statement style! 

3.     Donate, sell, discard.
Kalau pakaian sudah tidak dipakai dalam jangka waktu 6 bulan terakhir, saatnya kita berpikir. Masih happykah kita saat memakainya?(simpan). Masih bagus dan layak banget nih, tapi kayaknya nggak akan dipakai lagi (donasikan/jual preloved). Sudah bernoda atau rusak dan malas banget lihatnya (buang). 

4.     Belilah kualitas, bukan kuantitas.
Belilah baju yang benar-benar kita suka dan cocok dengan kita, bukan karena ikut-ikutan trend atau karena lagi sale. Belilah 1 item walaupun mahal daripada 10 items di sale rack yang pada akhirnya akan jadi sampah dan penyesalan belaka. Tips yang ini paling sulit deh, gampang secara teori tapi praktiknya susah banget!

Setelah baca-baca tips dan referensi berapa banyak pakaian yang dikatakan cukup untuk saya miliki, saatnya bikin list!

How Many Outfits do I “REALLY” need in My Wardrobe?




Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Thursday, October 4, 2018

Counting Days : The Third Trimester


Nggak kerasa udah masuk trimester ketiga aja! Makin excited dan deg-degan mau ketemu adik bayi. Saking menyenangkannya trimester kedua, saya nggak sadar dalam hitungan bulan saya akan menjadi seorang ibu. Syukurlah kehamilan saya hingga trimester ketiga ini sehat dan nyaman.
Trimester ketiga dipenuhi dengan persiapan-persiapan mulai dari belanja kebutuhan bayi (yang tidak ada habisnya), olahraga yang makin kenceng, memilih tempat bersalin, dan mengelola emosi biar nggak khawatir dan ketakutan.

1.     Belanja kebutuhan bayi
Mempersiapkan kebutuhan bayi memang sangat tricky. Apalagi untuk saya yang adalah anak dan menantu pertama yang nggak mungkin dapet hibahan dari kakak atau ipar. Meskipun udah buat list belanja, tetap saja lapar mata. Karena anak pertama, semua barang-barang yang pernah direview Instagram mommy ingin saya beli. Tapi biar nggak kalap-kalap banget, saya rajin-rajin tanya teman yang sudah lebih dulu jadi ibu.
2.     Olahraga
Kalau ini nggak usah ditanya ya. Hampir semua artikel kehamilan menyarankan ibu hamil untuk rajin berolahraga. Masuk trimester ketiga saya tetap meneruskan renang dan prenatal yoga di Pro V Clinic. Karena nggak selalu dapat jadwal yoga pas weekend  (iya, cari jadwal yoga di Pro V pas hari Sabtu itu susah banget!), saya rajin mencatat tips-tips yoga yang diberikan oleh Mbak Mila dan Mbak Ochan. Selain itu, saya mulai rajin praktik yoga sendiri setiap pagi (beneran tiap hari) dipandu video gerakan yoga dari Bidan Kita. Syukurlah karena lumayan rajin olahraga, kehamilan saya nggak berat, minim sakit punggung, dan saya nggak pernah mengalami sulit tidur.
3.     Memilih tempat bersalin
Karena memutuskan untuk melahirkan dekat dengan keluarga (di Bali), jadi saya harus melakukan survey ulang atas tempat bersalin yang support melahirkan dengan nyaman dan alami. Awalnya sih kepikiran mau di Klinik Bumi Sehat Ubud, tapi berhubung keluarga tinggal di Singaraja, saya harus cari alternatif lain. Tapi tetep ya, saya pengennya di klinik bersalin saja. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar sehingga saya nggak perlu menjalankan plan B. Doakan!
4.     Mengelola emosi
Ini nih yang gampang-gampang susah. Gimana sih rasanya mau melahirkan seorang manusia baru ke dunia? Excited, takut, cemas, happy, dan ragu-ragu bercampur jadi satu. Saya harus rajin-rajin afirmasi dan meditasi biar tetep waras. Gimana coba membayangkan dan menyiapkan diri untuk sesuatu yang benar-benat nggak tahu rasanya. Sampai saat ini saya masih terus berupaya untuk banyak membaca, belajar, dan mencari referensi mengenai kelahiran yang nyaman. Yakin semua bisa dipersiapkan asal kita mau belajar dan berusaha.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Tuesday, October 2, 2018

Everything is Better and Happier on The Second Trimester!


Memasuki trimester kedua, tenaga saya muncul kembali entah dari mana. Rasa mual menghilang dan pola makan saya kembali bisa diatur. Makanan yang dimakan lebih variatif dan saya udah semangat  lagi untuk masak! Yey! Saya agak menyesal selama dua bulan awal kehamilan beli makanan terus, ngerasanya kurang bernutrisi dan nggak diolah secara baik. Tapi ya apa mau dikata, masih untung pengen makan kan, hehe. Syukurnya sampai lewat trimester pertama saya nggak mengalami ngidam (atau jangan-jangan saya yang nggak sadar kalau udah mengalaminya). Nggak pernah kepengen banget sama satu makanan spesifik yang sampe ngeces. Ya, saya anggap ini kooperatifnya adik bayi karena tahu bapaknya di luar kota.

Saya happy banget menjalani trimester kedua kehamilan ini. Karena badan udah fit lagi, saya langsung mencari-cari opsi olahraga yang bisa saya lakukan biar badan nggak kaku-kaku amat dan kenaikan berat badan nggak gila-gilaan. Opsi pertama saya adalah renang, karena ada kolam renang yang dikelola kantor dekat dengan tempat tinggal saya. Selain renang, di minggu ke-19 saya mulai ikut kelas yoga di Pro V Clinic. Kenapa Pro V Clinic padahal jauh banget di Permata Hijau? Semuanya berawal akibat suka kepoin Instagram doula hits sejagat dunia maya, Mbak Mila (@jamilatus.sadiyah). Selain itu, saya nggak menemukan opsi tempat prenatal yoga lain yang lebih dekat (dan affordable). Oh ya, saya juga belajar bangun lebih pagi untuk melakukan yoga ringan dipandu video yoga dari @bidankita. Lumayan membantu dalam mengatasi pegal-pegal, terus jadi lebih fresh saat beraktivitas di kantor. Nggak lemes dan ngantukan!

Saat saya bilang tenaga saya kembali, benar-benar kembali seperti sebelum hamil. Saya udah kuat jalan-jalan muterin supermarket dan window shopping di mall, meskipun tetap saya batasi nggak pergi seharian. Takutnya saya semangat eh badan ternyata udah kecapekan. Bahkan pas libur Idul Fitri saya ngantri gila-gilaan di Museum MACAN! Terimakasih banyak anakku, udah selalu kooperatif sama ibu dan nggak pernah manja.


Apa nggak ada keluhan sama sekali?

Jelas ada dong. Awal trimester kedua saya sempat mengalami susah tidur karena mulai membiasakan untuk tidur miring ke sisi kiri. Menurut penelitian, tidur miring ke sisi kiri lebih baik karena aliran darah ke plasenta akan lebih banyak dan lancar. Jadilah saya sakit pinggang dan sering terbangun. Tapi untungnya hal ini cuma berlangsung 1-3 hari saja. Iya, saya memang dianugerahi bakat alami (hampir) selalu bisa tidur nyenyak.

Keluhan berikutnya, saya sempat mengalami ngilu di tulang kemaluan sebelah kiri. Hal ini sebenarnya wajar, karena rahim dan bayi yang berkembang mendesak otot-otot, termasuk di sekitar kemaluan. Agak nggak nyaman sih, tapi syukurlah setelah rajin berenang dan yoga, rasa sakitnya berangsur-angsur menghilang.

Kemudian, sekali-sekali saya mengalami juga yang namanya susah buang air besar. Ini yang paling nggak enak. Padahal saya selalu mengkonsumsi sayur dan buah. Mungkin memang kodratnya ibu hamil mengalami ini, jadi ya udah saya ikhlas aja.
Terlepas dari keluhan (yang minim), kehamilan trimester kedua ini benar-benar menyenangkan deh. Apalagi pas pertama kali merasakan tendangan adik bayi. Ya ampun excited dan gemes banget! Sambil menikmati kehamilan, saya juga nggak lupa untuk mencari referensi tentang melahirkan nyaman dan tips n trick nya. Saya juga membuat birthplan dan afirmasi terus sama adik bayi untuk proses melahirkan aman, selamat, nyaman, sehat, dan tanpa drama. Doakan ya, kami bisa bekerja sama untuk mewujudkan proses kelahiran normal yang minim trauma. 


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Monday, September 17, 2018

We Are Expecting! : The First Trimester


Bagaimana sih tahunya kalau sudah positif hamil?

Setelah melewati kesedihan dan putus asa karena keguguran, saya memang langsung mengambil ancang-ancang untuk bisa segera hamil lagi. Entah tepat atau konyol, hampir setiap hari saya mencari tulisan-tulisan di blog dan forum kehamilan tentang pengalaman keguguran dan keberhasilan untuk bisa segera hamil. Saya mencoba percaya kalau peluang hamil akan lebih besar ketika kita baru saja mengalami keguguran.

Tapi seyakin-yakinnya saya, tetap saja cuma bisa berdoa dan mengupayakan yang terbaik. Suami saya tetap dengan usahanya memperbaiki pola hidup (makan yang baik, minum vitamin yang diresepkan dokter, mengurangi beban kerja), dan saya dengan stress healing dan berusaha kembali hidup normal (olahraga dan nggak takut-takut berkegiatan ini itu). Kami juga berusaha mengatur jadwal berhubungan. Yang terpenting, kami bekerja keras untuk tetap happy dan enjoy our life.

Karena siklus menstruasi saya selalu mundur 1-2 minggu, saya nggak terburu-buru mencoba tes kehamilan ketika lewat minggu kedua saya belum juga menstruasi. Setelah lewat 2 minggu 4 hari, barulah saya memberanikan diri mencoba testpack pagi-pagi karena masih percaya urin pagilah yang terbaik untuk mengecek ada tidaknya hormon kehamilan. Antara yakin nggak yakin testpack, saya langsung degdegan ketika selang beberapa detik mulai terlihat garis kedua yang masih samar. Saya langsung melakukan tes kedua dengan testpack merek berbeda dan seneng banget garis kedua terlihat lebih jelas. Yes, saya hamil!

Apa langsung periksa ke dokter?

Nggak. Sebelum periksa ke dokter saya menunggu sekitar 4 minggu dengan harapan begitu periksa sudah terlihat bakal janin, syukur-syukur sudah bisa mendengar denyut jantung karena menurut hitungan manual kehamilan saya sudah akan berusia 8 minggu.

Saat pertama kali periksa ke dokter, dengan bodohnya saya malah pipis sebelum USG. Dan ternyata, yang terlihat hanya kantung kehamilan yang menurut alat USG dilihat dari ukurannya berusia 5 minggu. Kosong melompong. Antara nggak kelihatan karena tadi saya pipis dulu atau memang belum ada bakal janinnya. Kata dr. Arman kalau mau lebih pasti saya bisa coba USG transvaginal atau nanti aja periksa 4 minggu lagi untuk memastikan ada tidaknya janin.

Jeder! Baru tahu ya kalau dua garis yang muncul di testpack bukanlah jaminan kamu pasti hamil. Saat itu saya merasa takut dan cemas, gimana kalau gini, gimana kalau gitu. Tapi suami saya meyakinkan saya, terlihatnya kantung kehamilan adalah pertanda baik. “Yakin deh, anak kita ada di situ, nanti kita lihat 4 minggu lagi.” Makasih suami, kamu memang motivator nomor satu!

Tahu hamil meskipun ragu-ragu bikin saya lebih berhati-hati. Saya meminta untuk istirahat dari dinas luar kota kantor (maaf Pak Kepala Seksi!) dan menghentikan sementara semua kegiatan olahraga.
Sampai tiba waktunya saya melakukan pemeriksaan kedua. Nervous abis! Lebih grogi daripada waktu saya nikah dulu. Syukurlah! Saat dr.Arman menempelkan alat USG di rahim saya, si baby langsung memperlihatkan diri dan memperdengarkan detak jantungnya. Ya ampun terharu banget! Awalnya saya skeptis sama orang-orang yang bilang nangis ketika mendengar detak jantung pertama bayinya, ternyata memang benar begitu adanya. Magical!


Apa ada perubahan kebiasaan atau fisik pas tahu hamil?

Sampai pemeriksaan pertama saya sama sekali nggak merasakan perubahan berarti selain payudara yang agak membesar (sama aja kaya mau siklus bulanan). Seneng dong! Makan masih normal, tapi pas nimbang berat badan saya udah naik 3 kg.

Semua berubah ketika masuk bulan kedua. Tiap pagi mual meskipun nggak sampai muntah. Bahkan hari-hari tertentu mual bisa sampai seharian. Ngapa-ngapain males. Makan makanan manis mual (biasanya suka banget), pengennya yang asin dan berbumbu kuat. Minum air hangat nggak bisa. Tips yang saya ikuti dan lumayan berhasil adalah ngemil apel. Tiap hari saya selalu sedia apel potong. Ampuh banget mengurangi mual.

Selain itu, bawaannya ngantuk terus. Saat itu rata-rata jam 9 malam saya sudah tidur. Tapi bangunnya siang dan malas-malasan. Duh! Nggak teratur banget deh hidup. Masak nggak minat, pengennya beli aja yang praktis. Kalau lagi libur sehari bisa pesan 4-5 macam makanan, random abis!

Syukurnya kehamilan ini bukan tipe yang kalau mual harus dimuntahin, tapi harus diisi makanan. Ya, seenggaknya tenaga saya tetap full. Ngomong-ngomong meskipun tenaga full, yang lucu pas hamil trimester pertama adalah badan saya kayak lemah banget dan nggak kooperatif kalau diajak jalan-jalan. Jalan dikit sakit pinggang pengen duduk. Belanja di supermarket aja nggak sanggup antri di kasir. Untung ada suami yang siap sedia mengasistensi kalau lagi kumat.

Yang menguatkan saya di saat-saat mual dan lemes selain suami adalah rasa syukur dan excitement akan memiliki anak. Rasa syukur itu sumber kebahagiaan dan sumber semangat banget! Selain itu, penting memastikan kesiapan kita dan pasangan ketika memutuskan akan memiliki anak. Partner yang kooperatif menurut saya adalah kunci sukses menjalani kehamilan yang menyenangkan. Doakan si baby sehat terus ya, nanti cerita saya sambung di jurnal berikutnya.  



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Saturday, September 15, 2018

After a Hurricane Comes a Rainbow


Saya sering banget mempertanyakan rencana Tuhan untuk saya dan keluarga. Kenapa begini, kenapa nggak begitu. Tapi ternyata Tuhan sangat murah hati, saya aja yang suka emosi dan nggak sabaran. Mulai sekarang saya benar-benar harus sering mengucap syukur karena Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi kami.

Setelah mengalami keguguran spontan di awal tahun, tak disangka-sangka Tuhan kembali mempercayakan seorang anak kepada kami.

Jadi awal tahun itu setelah balik ke Jakarta dari cuti tahun baru, saya langsung memeriksakan kondisi kandungan ke dr. Arman, spesialis kandungan yang saya pilih untuk pemeriksaan pertama sewaktu testpack menunjukkan hasil positif. Saat periksa saya tahu calon anak saya udah nggak ada, tapi dr. Arman pura-puranya ingin memsatikan lagi. Saya cuma mau tahu kondisi rahim saya apa perlu tindakan kuretase atau nggak, karena saya ingin segera melakukan program lagi. Syukurlah dari hasil pemeriksaan ternyata saya mengalami abortus spontan yang nggak perlu kuretase. Kondisi rahim saya bersih dan boleh langsung usaha untuk hamil lagi.

Waktu itu saya tanya apa perlu meminum vitamin kesuburan? Eh, dokter malah ngetawain saya, katanya, “Ini kemarin kamu bisa hamil kan, jadi nggak perlu dulu minum-minum obat penyubur.” Ya alasan saya tetap di dr. Arman selain karena tempat praktik yang dekat, juga karena beliau selow abis. Selalu mengatasi kekhawatiran saya. Wajar kan, namanya juga hamil pertama. Dokter saat itu hanya menyarankan waktu berhubungan kalau mau program.

Syukur yang tak terhingga kepada Tuhan karena bulan Februari saya langsung telat menstruasi. Saya nggak sabar untuk langsung pakai testpack, dan bahagia banget pas saya lihat garis kedua meskipun masih samar-samar (lihat deh gambar TP yang bawah, bahkan garis keduanya nggak tertangkap lensa kamera).

Trauma? Nggak bisa dipungkiri saya lebih waspada setelah keguguran yang saya alami. Paranoid juga. Tiap mau buang air kecil saya selalu ketakutan akan pendarahan. Meski begitu, lama-lama saya sadar sebaiknya saya pintar-pintar mengelola pikiran untuk selalu positif. Terima kasih juga untuk anak saya yang nggak henti-hentinya membantu dan bekerja sama dengan ibumu ini.
Tulisan ini selain sebagai pengingat bagi saya, mudah-mudahan juga bisa memberikan semangat bagi wanita-wanita hebat lain yang sedang menunggu kehadiran anak. Sedikit banyak saya tahu rasanya ditanya-tanya sudah hamil belum, diragukan niatnya untuk punya anak, mengharapkan sesuatu yang nggak diketahui kepastiannya, dan sedihnya kehilangan.

Mungkin kalian akan bilang, “Ya kamu gampang cerita begini karena udah berhasil, coba kalau belum.” Well, saya mungkin sok tahu tentang perjuangan untuk memiliki seorang anak. Tapi sebagai seseorang yang juga pernah ada di posisi “berusaha” saya ingin mengatakan, “Percayalah, Tuhan pasti akan memberikan rejekinya di waktu yang tepat. Tuhan selalu punya rencana yang terbaik buat kita. Believe in Him, believe in your partner, believe in yourself, don’t give up!


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Sunday, March 25, 2018

X2 Sanso Color SoftLens Review


Hello,
Kali ini saya mau mereview produk yang nggak biasa saya pakai. Sebulan lalu saya menerima paket dari X2 softlens yang isinya dua pasang lensa kontak (softlens) dan cairan pembersih. Sejujurnya saya agak ragu-ragu juga gimana mereview softlens padahal sekalipun saya belum pernah pakai, bahkan pasang sendiripun kayaknya nggak bisa. Duh!

Banyak banget ketakutan saya akan softlens yang bikin saya nggak pernah mencoba memakainya. Terutama sih karena ulasan-ulasan yang menyebutkan bahwa memakai softlens dapat merusak mata. Terus ada juga yang sampai mengalami kebutaan. Padahal terus terang saya tertarik mencoba softlens karena menurut saya memakai softlens, terutama yang memiliki pigmen warna, instantly improve our appearance. Terlebih lagi, memakai softlens membuat makeup lebih terlihat menonjol.

Ketika mencoba softens dari X2 softlens, saya membuat riset kecil-kecilan dulu. Membaca keterangan produk berkali-kali sebagaimana saya juga mengulang-ulang membaca instruksi pemakaian/penyimpanan di kemasan. Setelah saya yakin, barulah saya mencoba salah satu varian dari X2 softlend yaitu X2 sanso color pattern Cappucino.

X2 softlens sendiri diproduksi dengan sistem multy-layer polymerization sehingga warna tidak pudar dan aman bagi mata. Material softlens X2 sesuai dengan standarisasi Internasional FDA, KFDA, ISO, CE approved. Nah, kalau X2 sanso color terbuat dari material hubrid silicone hydrogel yang mampu menghantarkan oxygen 80%. Karenanya, kita nggak perlu khawatir menggunakan softlens ini. Meskipun digunakan secara rutin, asal kita tahu cara perawatannya mata kita akan tetap sehat. Care instructions secara jelas dituliskan di setiap kemasan X2 sotlens.

Untuk harga, mungkin banyak softlens-softlens lain yang lebih murah. Tapi hati-hati, jangan-jangan softlens yang dijual murah malah KW. Meskipun patternnya nyaris sama, tapi kalau KW ya kualitas produk beda jauh. Bahan yang digunakan bukanlah silicone hydrogel, jadi nggak menjamin dapat membuat mata tetap sehat.


Percaya nggak kalau sebelum saya pasang sendiri softlens ini, saya sampai nonton tutorial di youtube saking parnonya pasang softlens. Syukurlah akhirnya berhasil dalam waktu yang singkat, nggak pakai drama, dan wow! When looking at the mirror, I feel like a different person staring at me. Softlens benar-benar memberi tambahan karakter pada wajah seseorang.

Pattern Cappucino saya pilih sebetulnya karena menginginkan warna cokelat pekat. Eh ternyata setelah saya pakai malah agak light ya. Tapi tetap bagus, dan syukurlah saya nggak merasakan sesuatu yang aneh atau menyakitkan pas pakai X2 softlens. Pemakaiannya sangat nyaman dan setelahnya pun nggak membuat mata menjadi merah. Tapi sekali lagi saya tekankan, baca baik-baik saran pemakaian dan penyimpanan ya, terutama bagi yang jarang-jarang pakai softlens kayak saya.

Well, kalau ada tips atau saran terkait softlens boleh dong dishare di kolom komentar.

*sponsored post



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Sunday, February 4, 2018

SK II Facial Treatment Essence Review


Setelah sekian lama penasaran dengan esens yang jadi holy grail kebanyakan beauty enthusiast ini, akhirnya saya memberanikan diri mencoba si fenomenal SK II Facial Treatment Essence (FTE). Sejujurnya saya sangat takut dan ragu ketika pertama kali mencoba Pitera esens. Gimana nggak takut, banyak review menyebutkan kalau SK II FTE bikin purging yang nggak tanggung-tanggung, jerawatan semuka, kulit gosong, dan masih banyak lagi efek purging yang bikin maju mundur cobain produk ini. Tapi berbekal keyakinan kalau kulit saya udah bebas dari perawatan dokter, sayapun mencoba menambahkan Pitera esens ke dalam skincare routine saya.

Pertama kali coba, ada sensasi cekit-cekit yang cenderung tidak nyaman. Saya nggak tahu apa semua orang merasakan hal ini ketika pertama kali menggunakan SK II FTE. Rasanya kayak gatal pas diolesin peeling. Memang nggak parah sampai ingin garuk-garuk, tapi saya rasakan sensasi ini berlangsung cukup lama. Tapi ini hanya saya rasakan saat pemakaian pertama, selanjutnya udah nggak lagi.

Saya menggunakan SK II FTE pagi dan malam hari setelah menggunakan toner. Awalnya saya aplikasikan menggunakan kapas, tapi kok nggak puas. Jadi saya menuangkan esens di telapak tangan kemudian saya tepuk-tepuk lembut di seluruh wajah. Cara ini lebih enak sih kalau menurut saya. Cukup 2-3 tetes biar nggak boros. Satu botol SK II FTE berukuran 75 ml kira-kira bisa saya gunakan selama 5 bulan. Cukup hemat kan!


SK II FTE mengandung lebih dari 90% Pitera. Saya kutip dari official website SK II Indonesia, Pitera adalah Bahan bio-alami yang mengandung lebih dari 50 nutrisi mikro. Pitera membantu mengkondisikan fungsi alami kulit dan menutrisinya dengan pelembab alami untuk membantu kulit terhidrasi, terasa lembut dan tampak bercahaya alami. Dengan pemakaian rutin sesuai petunjuk pemakaian, kulit terbantu tampak cantik sebening Kristal.
Setelah menghabiskan 1 botol (sekarang botol kedua), saya ingin sharing tentang apa yang saya rasakan terkait klaim produk ini.

Kulit sebening kristal setelah pemakaian satu botol

Not literally sebening kristal, saya belum merasakan kalau kulit saya jadi bening seperti para brand ambassador di iklan SK II FTE. Kalau yang dimaksud tampilan kulit jadi lebih bening dalam artian putih merata dan bersinar, saya rasa nggak, atau mungkin belum. Tapi saya senang SK II FTE membuat warna kulit saya merata dan terlihat sehat.

Pitera akan membantu mengkondisikan fungsi alami kulit

Mungkin ini sebabnya banyak orang yang masih memakai rangkaian perawatan dokter kulit mengalami purging. Syukurlah saya nggak perlu mengalami masa-masa jerawatan atau kulit gosong saat awal pemakaian. Saya memang merasa kulit saya cenderung balik ke kondisi alaminya sebelum mengenal krim racikan. Hal ini saya sadari waktu saya belajar berenang. Hampir setiap hari di kolam renang dengan air yang tahu sendiri lah bikin kulit nggak bagus, kulit saya tetap bertahan dan nggak muncul masalah.

Membantu masalah kulit kusam dan kering

Sejak kembali bekerja, kulit saya menjadi cenderung kering karena dari pagi sampai sore ada di ruangan berAC. Dari yang saya rasakan, SK II FTE tidak terlalu membantu karena kulit saya tetap kering dan kadang-kadang mengelupas di bagian hidung. Padahal belakangan ini saya memakainya 2 sampai 3 step.  Namun untuk kulit kusam saya rasa sesuai dengan klaimnya kalau SK II FTE dapat membantu membuat tampilan kulit lebih cerah. Sekali lagi bukan cerah dalam artian putih ya, tapi lebih ke tampilan kulit sehat.

SK II Facial Treatment Essence membuat kulit kenyal dan awet muda

Saya sangat setuju dengan klaim produk yang mengatakan esens ini membuat kulit lebih kenyal. Saya puas banget dengan tekstur kulit saya sekarang. Nah, untuk awet muda, sepertinya kita harus tunggu beberapa tahun lagi tentunya dengan pemakaian teratur.

Overall, saya suka dengan produk ini dan berniat untuk terus menggunakannya. Tapi saya nggak bohong kalau saya berpikir juga untuk cari esens lain karena sekarang sudah banyak bermunculan esens yang nggak kalah oke dengan harga yang lebih affordable.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Tuesday, December 12, 2017

Planning for Pregnancy


Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya beberapa minggu lalu saya memutuskan untuk menemui dokter spesialis kandungan.

Bulan lalu tepat setahun saya menikah. Tanpa ada rencana menunda, sampai hari ini saya belum juga dipercaya Tuhan untuk hamil. Memang sih, 6 bulan pertama menikah saya masih berkeinginan fokus menyelesaikan kuliah. Tapi ternyata hamilnya tertunda sampai hari ini.

Meskipun sering tertekan dengan pertanyaan “udah isi belum?”, tapi saya bersyukur punya mertua yang pengertian. Tahu saya stres menghadapi pertanyaan seputar kehamilan, mertua saya belakangan ini udah jarang ngomongin cucu di depan saya. Paling pesannya cuma “makan yang banyak”. Ditanyain melulu kok belum hamil bikin saya kesel dan stres. Apalagi kalau ada yang banding-bandingin. “Si A belakangan nikah udah hamil tuh, kamu kok belum?”.  Serius deh, pertanyaan macam ini nyebelin banget dan nggak sopan. Meskipun niatnya cari topik pembicaraan atau basa-basi, saya sarankan lebih baik nanya yang lain aja. 

Balik lagi ke pemeriksaan kandungan.
Jadi, saya dan Bli Indra sudah sepakat kalau sampai setahun saya belum berhasil hamil, kami akan konsultasi ke dokter spesialis kandungan. Pemeriksaan yang saya jalani ini juga sebenarnya nggak direncanain banget. Berawal dari beberapa minggu setelah selesai menstruasi saya malah berdarah. Browsing sana sini, saya jadi ngarep kalau ini adalah darah akibat pelekatan sel telur yang berhasil dibuahi. Darah yang keluar memang nggak banyak, cuma 3 hari, itupun sedikit banget. Pokoknya persis deh seperti deskripsi darah pelekatan yang ditulis di blog-blog seputar kehamilan. Nah, memasuki  hari telat menstruasi ke-10 , saya coba test-pack. Hasilnya negatif. Sayapun kemudian memutuskan periksa aja sambil berharap hasil test-pack nya salah.

Saya memilih konsultasi ke dr. Alesia Novita, Sp.OG. karena sempat ditulis di salah satu blog yang nggak sengaja saya kunjungi waktu baca-baca soal kehamilan. dr. Alesia praktik di RSIA Bunda Aliyah (rating di Google 5 stars lho!), RSIA yang nggak terlalu besar tapi ramainya kayak pasar. Saya datang sari jam 9 pagi baru dipanggil untuk periksa jam 12.30 siang. Duh!

Jujur saya takut banget dengan pemeriksaan ini. Takut rahim nggak normal, takut kista, takut macam-macam. Pas masuk, dr. Alesia langsung menyapa saya dengan ramah. Saya udah niat mau curhat segala macam biar nggak galau-galau lagi mempersiapkan kehamilan. Nggak bertele-tele, sayapun langsung di transvaginal USG untuk mengetahui apa yang terjadi di rahim saya.

Iya, hasilnya memang saya belum hamil.
dr. Alesia bilang dinding rahim saya udah tebel banget, harusnya udah masuk masa menstruasi. Kenapa belum, karena sel telur saya ukurannya kecil jadi nggak ada sel telur yang lepas (bagian ini saya belum paham betul korelasinya). Dokter juga bilang rahim saya menghadap ke dalam. Itu aja.
Sisanya syukurlah normal.

Saya lega banget dengernya. Jadi nggak ada masalah dengan rahim saya, hanya harus minum tambahan vitamin untuk memperbaiki kualitas sel telur. dr. Alesia juga meminta bli Indra untuk sekalian periksa. Ya, bisa dibilang kami akan mulai program untuk memiliki anak. Doakan ya, mudah-mudahan segera.

Nggak menyia-nyiakan kesempatan, saya juga sekalian tanya tentang pantangan makanan dan olahraga. Intinya, boleh makan apa aja asal sudah dimasak sampai matang, termasuk lemon. Minum lemon bikin kandungan kering? Mitos. Olahraga gimana? Saya kan biasanya jogging 2-3 km tiap minggu, apa dapat mengganggu rencana kehamilan? Kata dokter malah harus olahraga 3 kali sehari dalam waktu 45 menit. Yeay! Happy banget, ternyata selama ini saya lebay suka menahan-nahan diri beraktivitas takut gagal hamil. Padahal kan hamil itu bukan penyakit atau keterbatasan. Jadi mulai sekarang saya nggak akan ragu-ragu lagi beraktivitas yang bikin saya lebih bahagia. Bersiap hamil bukan berarti menghentikan rutinitas positif dong.



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Tuesday, December 5, 2017

Antipodes Apostle Skin Brightening Serum Review


Antipodes Apostle Skin Brightening Serum adalah salah satu serum yang udah lama masuk skincare wishlist saya. Banyak review positif tentang serum ini bikin saya makin nggak sabar menambahkan Apostle serum ke dalam AM routine. Sebelumnya, saya memang nggak menggunakan serum di pagi hari, hanya essence (pre serum) dan moisturizer. Padahal menggunakan serum sangat disarankan untuk membantu memperbaiki kondisi kulit yang udah semakin meninggalkan keremajaannya. Dan akhirnya sayapun memantapkan hati mencoba serum ini dengan harapan kondisi kulit saya jadi makin baik dan sehat.

Antipodes adalah salah satu brand organic skincare yang berasal dari New Zealand. Akhir-akhir ini organic skincare semakin menjadi pilihan karena dipercaya menggunakan hanya bahan-bahan alami yang aman untuk kulit. Awalnya saya nggak terlalu familiar dengan organic skincare sampai sering dibahas dan direview oleh para skincare guru (Kae Pratiwi dan Deszel). Hampir seluruh range skincarenya menarik untuk dicoba, dua diantaranya ya di Apostle ini dan Aura Manuka Honey Mask (next wishlist).


Antipodes Apostle Skin Brightening Serum dikemas dalam botol serum kaca berwarna cokelat gelap. Serum ini berwarna cokelat muda pekat dengan tekstur watery tapi cukup kental. Tekstur water bikin Apostle serum cepat menyerap di kulit. Serum ini punya wangi yang cukup khas yang menurut saya sih nggak terlalu mengganggu.

Description

This water-based serum helps correct dull, blemishes or uneven skin. The revolutionary antioxidant Vinanza Grape&Kiwi helps minimise the appearance of facial redness. Exfoliating enzymes from the superfruit kiwifruit and shooting Vinanza Oxifiend from pinot noir grapes leave skin gloriously glowing. Meanwhile, mamaku black fern and Reishi mushroom of immortality boost healthy cell renewal for true, fresh-faced beauty.

Kalau membaca deskripsi produknya, serum ini benar-benar all-in-one perfect serum. Selain mencerahkan, juga kaya antioksidan dan mengurangi kemerahan pada kulit.

Saya menggunakan 2 tetes Apostle serum setiap pagi untuk seluruh wajah sampai leher. Lumayan awet kok, untuk ukuran 30 ml, serum ini bisa untuk 2-3 bulan pemakaian. Sebenarnya saya sangat suka tekstur dan sensasi setelah memakai serum ini.  Langsung menyerap nggak pakai lengket dan rasanya langsung memberi nutrisi pada kulit. Namun sayangnya, setelah hampir 2 bulan pemakaian, terjadi banyak penyumbatan pori dan muncul komedo. Duh sedih. Padahal saya sangat suka serum ini. Dengan sangat terpaksa sayapun menghentikan pemakaiannya.

Sepanjang yang saya baca di beberapa beauty blog, banyak yang cocok dan aman-aman aja kulitnya ketika pakai Apostle serum. Iri deh. Kalau kalian salah satu yang cocok menggunakan serum ini, boleh dong sharing di bagian comment.



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Thursday, November 9, 2017

Notes on Our 1st Year of Marriage


Hari ini tepat satu tahun saya dan Bli Indra menikah. Semua berjalan begitu cepat sampai-sampai nggak terasa. Yang terasa cuma jauh-jauhannya saja. Hehe, iya nih resolusi untuk segera berkumpul satu rumah belum juga bisa terwujud. Please, jangan dikasihani nanti kami jadi sedih.

Menjalani setahun pernikahan jarak jauh memang nggak mudah. Bener kata orang-orang meskipun waktu pacaran biasa berjauhan tapi kalau udah menikah akan terasa lebih sulit. Saya nggak ngomongin ini terkait dengan seks ya, tapi perasaannya memang beda sih. Lebih dekat dan lebih terikat. Tapi karena tuntutan kewajiban pekerjaan dan kami nggak punya solusi lain ya harus dijalani dengan semangat.

Kalau ingat awal menikah, yang paling sering dihadapi adalah dua pertanyaan ini. Pertama “ada kebiasaan dia yang bikin kaget nggak?”, dan kedua “udah isi belum?”.

Untuk pertanyaan pertama, syukurlah kami berdua dari pacaran kalau masalah sifat dan kebiasaan udah nggak jaim ya. Jadi benar-benar nggak ada yang beda. Paling yang bikin saya kaget malah saya menilai suami saya terlalu remeh. Haha, saya pikir dia orang yang berantakan yang suka naruh handuk dan baju kotor sembarangan. Saya lho di kantor aja suka ngomel kalau ada yang naruh barang nggak pada tempatnya. Eh tapi ternyata suami saya sangat mandiri dan rapi kalau urusan barang pribadi. Bersyukur banget deh. Bahkan kalau bepergian selalu ngingetin saya masalah packing dan checklist barang.

Menghadapi pertanyaan “udah isi belum”, terus terang saya stres berat. Awalnya sih santai dan berusaha cuek, tapi lama-lama kepikiran juga. Apalagi sampai bulan ke 12 ini saya belum juga hamil. Sering lho saya nangis sendiri kalau ingat kenapa belum berhasil hamil juga. Tapi nggak boleh putus asa. Untung makin kesini mertua dan orang tua saya udah nggak terlalu sering menyinggung masalah cucu, meskipun saya tahu mereka udah kepengen banget punya cucu. Dan sejak saya masuk kantor lagi, stres saya berkurang karena banyak teman-teman di kantor yang bisa diajak sharing masalah kehamilan dan memiliki anak. Memang sih saya menikah belum lama dan tinggal berjauhan pula. Tapi sesuai rencana begitu lewat satu tahun, saya akan segera berkonsultasi dengan dokter.

Ketika ditanya gimana setelah setahun menikah, saya merasa lebih banyak bahagianya. Bukan berarti saya akan mempengaruhi kalian untuk segera menikah juga. Menikahlah setelah cukup mengenal dan sudah banyak mempertimbangkan. Soalnya ini kan tentang memilih teman seumur hidup. And luckily I have found one. 



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Thursday, September 14, 2017

ZOYA Cosmetics New Limited Edition Lip Paint Review


Kalau ngomongin lipstick lokal memang nggak pernah habis ya. Sekarang kita bisa lihat banyak brand baru bermunculan maupun brand yang sudah ada mulai membuat produk lipstick. Salah satunya ZOYA Cosmetics yang ternyata cukup sukses memikat hati pencinta lipstick dalam negeri. Sebelumnya kan orang-orang tahunya ZOYA sebagai brand busana muslim tapi ternyata cosmetic line-nya cukup menarik perhatian.

Kebetulan saya diberikan kesempatan untuk mencoba dua shades baru lip paint ZOYA Cosmetics. Sebelumnya ZOYA Cosmetics sudah mempunyai 12 shades lip paint. Kali ini ZOYA Cosmetics mengeluarkan New Limited Edition Lip Paint dengan metallic finish yang memang sedang menjadi tren beberapa waktu belakangan. Selain varian warna yang spesial, yang membedakan New Edition Lip Paint ini adalah kemasannya yang lebih baik dari varian sebelumnya.


Shades yang saya coba Elizabeth-metallic dark red dan Beatrix-metallic brownish. Saya cukup terkesan karena kedua warna ini menurut saya nggak ikut-ikutan brand lokal lain dan cukup kasih “statement”. Karena saya penyuka warna bold jadi yes I do love it! Selain warnanya yang saya suka teksturnya juga cukup oke. Teksturnya mirip dengan RR tapi sedikit lebih creamy. Jadi meskipun dia mengklaim sebagai matte lip colour tapi nggak dead matte dan mirip ke satin finished.


Beberapa waktu setelah lip paint ini saya terima, pas banget saya ikut acara kantor yang konsep makeupnya cocok banget dengan warna lip paint ini. Sekalian aja saya coba ketahanan dan kenyamanannya untuk digunakan seharian selama acara. Sampai siang saya sih merasa nyaman-nyaman aja. Lip paint ini nggak bikin bibir saya kering dan warnanya juga pigmented. Transferproof? Meskipun diklaim demikian tapi menurut saya nggak terlalu sih, masih suka nempel meskipun nggak banyak. Mungkin karena memang formulanya yang melembabkan dengan kandunan shea butter dan antioksidan, jadi agak transfer. Tapi saya cukup puas dan menurut saya malah lebih bagus dibandingkan lip paint dead matte yang ujung-ujungnya susah dibersihkan dan bikin bibir kering.

Ohya, yang juga bikin saya terkesan adalah aplikatornya! Membuat lip paint ini gampang diaplikasikan menjangkau sudut bibir. Enak deh. Dan rasanya aplikator model ini nggak akan bikin isi lip paint bleber ke tutupnya.

Kekurangan dari lipcream ini mungkin adalah not wearable enough, kecuali bagi orang yang memang suka memberikan statement di penampilannya.
Warna-warna metalik seperti ini memang cocoknya untuk bold/party make up. Selain itu biar nggak bosan dengan lipstick yang gitu-gitu aja, bisa juga menumpuk lipcream atau lipstick yang kita punya dengan warna-warna ini.

Harga New Edition Lip Paint ini IDR 120.000 tapi kalau beli 2 di www.zoyacosmetics.com hanya IDR 190.000! Cuma sampai 30 September saja ya. Hurry up!



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Monday, July 10, 2017

Unboxing My Althea First Purchases


Masih ingat kan tentang rencana saya belanja di Althea berhubung ada Raya Giveaway Festival dan Althea Limited Box? Beruntungnya saya, karena Althea berafiliasi dengan Bali Beauty Blogger memberikan IDR 500.000 store credit agar saya bisa mencoba pengalaman belanja di Althea. Yeay! Tanpa pikir panjang saya langsung buka aplikasi Althea di handphone dan masuk ke bagian “wishlist”.

Sebelum saya memberitahukan item apa saja yang saya beli, saya ingin menceritakan pengalaman pertama saya belanja di Althea. Secara proses, belanja lewat aplikasi Althea sangat memudahkan, bahkan bisa mencelakakan karena dimana saja kapan saja kita bisa klik-klik dan tanpa sadar checkout deh dari keranjang belanja. Menurut pengalaman teman-teman saya, proses pengiriman biasanya memakan waktu satu sampai dua minggu. Sayapun merasakan proses handling dari Althea Korea berjalan dengan cepat, tapi karena melewati libur lebaran paket saya baru sampai sebulan kemudian. Untuk yang khawatir berurusan dengan Bea Cukai karena sebetulnya impor kosmetik oleh perseorangan itu dilarang, menurut informasi Althea Indonesia bertindak sebagai importir dan telah menyelesaikan semua perizinan (ini akan saya konfirmasi lagi ya).

Ohya, meskipun judulnya unboxing, It’s quite disappointing that my package didn’t come with box. Mungkin karena jumlah belanjaan sedikit ya (hanya 5 items).

So, what’s inside my package?

1.       April Skin Black Magic Snow Cushion


Cushion yang sudah lama jadi wishlist saya. Saya tertarik karena banyak review yang menyebutkan kalau coverage cushion ini oke banget.  Nanti saya akan tulis reviewnya kalau sudah coba beberapa kali.

2.       Dear, Klairs Gentle Black Sugar Facial Polis


Sejak mencoba black sugar scrub (also mask) dari The Skin Food saya belum menemukan scrub lain yang pas di hati. Jadi saya mencoba black sugar scrub dari dear, Klairs mudah-mudahan memuaskan terutama ampuh untuk mengangkat komedo.

3.       Ri-Re Silicone Sponge & Innisfree Air Magic Puff (Glow)


Coba beli silicone sponge karena penasaran dan puff dari innisfree sebetulnya untuk puff cadangan saja.

4.       Holika-Holika Wonder Drawing Skinny Eyebrow (Raya giveaway) 


Untuk Raya giveaway saya memilih eyebrow pencil dari Holika-holika. Eyebrow pencil ini automatic (tanpa serut) dan ada eyebrow brush juga di salah satu sisinya. Dan saya juga mendapatkan IDR 50.000 voucher untuk pembelanjaan berikutnya.



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Sunday, July 9, 2017

Nuxe Anti Fatigue Moisturising Eye cream Review


For me It is twice harder to add eye cream on my everyday skincare routine. Saya merasa eye cream nggak akan memberikan dampak yang signifikan dan juga, ribet!, harus memakai krim lain yang hanya khusus untuk area mata. Lagipula saya selalu menganggap area mata saya baik-baik saja, hanya sesekali sembab kalau kurang tidur.

Beberapa waktu belakangan, saya memutuskan untuk menambahkan eye cream dalam skincare routine karena sempat suatu waktu BA dari salah satu merek skincare favorit saya bilang kalau area mata saya kering banget. Nggak mau ambil risiko munculnya kerutan di kemudian hari saya pun memulai perburuan eye cream saya dan menemukan  Nuxe Anti Fatigue Moisturising Eye cream.

Kenapa saya tertarik mencoba produk ini?

Nuxe Anti Fatigue Moisturising Eye cream merupakan moisturising eye cream yang disebut dapat mengurangi sembab dan lingkaran hitam pada mata. Karena sifatnya yang melembabkan, eye cream ini memang ditargetkan untuk memperbaiki kondisi kulit yang kering di area mata. Hal inilah yang membuat saya memutuskan mencoba Nuxe Anti Fatigue Moisturising Eye cream  untuk melembabkan kulit di area mata saya. Apa sih tandanya area mata yang kering? Yang paling saya rasakan adalah ketika menggunakan makeup, foundation atau concealer nggak mau nempel sempurna di area bawah mata. Malah cepat luntur dan kelihatan belang. Pengaplikasian eyeshadow pun jadi agak susah kalau kulit di sekitar mata nggak sehat. Dan yang paling seram, area mata yang kering dan nggak terawat akan mempercepat munculnya kerutan.


Nuxe Anti Fatigue Moisturising Eye cream bertekstur krim yang lumayan kental dan berwarna putih. Meskipun teksturnya krim, eye cream ini cepat menyerap dan nggak meninggalkan bekas. Wanginya lembut mengingatkan saya pada wangi bunga jempiring. Bahan-bahan penyusunnya terdiri dari Plant caffeine yang berfungsi untuk anti sembab dan Hyaluronic acid untuk anti aging. Yang saya suka adalah eye cream ini dikemas dalam botol pump, jadi lebih higienis dan mempermudah untuk menakarnya. Saya menggunakan eye cream ini setiap pagi dan malam, menutup rangkaian AM dan PM routine. Cukup setengah pump atau sebesar biji kacang hijau. Saya mengaplikasikannya menggunakan jari tengah atau jari manis dengan gerakan setengah lingkaran yang ditarik ke area luar mata.


Setelah kurang lebih tiga bulan pemakaian, saya merasakan kulit di area mata memang menjadi lembab. Tekstur kulit juga jadi halus. Tapi kalau untuk kantung mata dan kerutan, produk ini nggak terlalu membantu. Nuxe Anti Fatigue Moisturising Eye cream bisa dicoba bagi ingin melakukan perawatan sedini mungkin untuk kulit area mata terutama mencegah sebelum kerutan mulai bermunculan. Repurchase? Karena eye cream durasi pemakaiannya cukup lama alias susah habisnya, mungkin saya nggak akan repurchase, tapi coba eye cream lainnya untuk targeted treatment.


          
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Thursday, June 15, 2017

Fresh Ramadhan Look feat Face 2 Face Cosmetics


Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat menyambut bulan suci Ramadhan bagi teman-teman umat Islam. Bagaimana ibadah puasanya sampai hari ini? Mudah-mudahan lancar sampai hari kemenangan ya.

Menghitung hari menuju Hari Raya Idul Fitri, kali ini saya bersama teman-teman Bali Beauty Blogger mengadakan makeup collaboration with Face 2 Face Cosmetics. Dalam kolaborasi ini, akan ada dua tema makeup, #teamrendang dengan bold makeup dan #teamopor dengan nude makeup. Tentu saja kedua tema ini bisa jadi inspirasi untuk makeup di Hari Raya. Can you guess in which team I am?

Setelah sering bermain dengan nude, untuk inspirasi make up Hari Raya saya akan mencoba bold makeup bersama #teamrendang. Meskipun bold, saya ingin membuat look yang wearable dan fresh. Jadi saya bermain dengan warna hijau dan biru, summer colours! Produk yang saya gunakan hampir semuanya adalah Face 2 Face Cosmetics. Bagi yang belum tahu atau belum pernah mendengar Face 2 Face Cosmetics, brand ini adalah salah satu brand lokal kosmetik dengan kualitas bersaing dan harga yang sangat terjangkau. Makin semarak ya brand kosmetik lokal.

So, here is my fresh Ramadhan looks,


Products that I used

Face 2 Face Whitening BB Cream - Beige


BB Cream but foundation look alike. Iya, menurut saya BB cream ini lebih seperti foundation. Teksturnya lebih padat dari BB cream lainnya. Kalau saya sih lebih memilih BB cream dengan tekstur ringan. Tapi kalau masalah coverage, bagus banget! Bisa menutupi noda-noda di wajah dengan baik.

Face 2 Face Eye Shadow – Green Royal


Saya memilih eye shadow ini karena belakangan suka banget dengan summer inspired make up look. Eye shadow ini terdiri dari 3 warna, menyerupai lime green, turquoise, blue. Kenapa meyerupai, karena menurut saya warnanya nanggung. It doesn’t meet my expectation. Powdery dan nggak terlalu pigmented. But the good news is, they’re quite easy to blend.

Face 2 Face Blush On – Pink Sweet Cheek


Warna blush on nya cantik banget! Kebetulan juga saya belum punya blush on warna pink. Warnanya cukup pigmented. Agar mendapatkan pipi bersemu merah jambu yang natural, saya aplikasikan blush on ini dengan jari.

Face 2 Face Eyeliner – Liquid Black


Sebetulnya eye liner ini adalah favorit saya di antara semua produk. Warnanya pekat dan lumayan cepat kering. Saya sangat menyayangkan aplikatornya yang susah digunakan. Terlalu halus, jadi agak susah bagi saya mengaplikasikannya.

Face 2 Face XOXO Matte Lipstick – Hazelnut Latte


Matte lipstick yang worth to try. Warna yang saya dapat Hazelnut Latte, warna merah kecokelatan. My type of colour, tapi kurang cocok dengan green eye shadow. But for me, this is the best product among all.


Overall the pros and cons are :
(+)
·         Harga terjangkau
·         Saya lumayan suka packagingnya

(-)
·         Powdery eye shadow dan kurang pigmented
·         Aplikator eye liner yang susah digunakan

Secara keseluruhan, saya rasa Face 2 Face Cosmetics bisa menjadi pilihan bagi yang menginginkan budget cosmetics. Terutama untuk nambah-nambah variasi make up di Hari Raya. Jadi, sudah memutuskan akan membuat look apa untuk menyambut Hari Raya?



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+