HOME      ABOUT      CONTACT      INSTAGRAM
Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

Wednesday, May 17, 2017

Komodo Sailing Trip #2 : Pulau Padar dan Rinca


Dalam trip ini, kami sengaja memilih hanya berlayar dua hari satu malam yang kami rasa cukup. Kami harus menentukan tempat-tempat yang akan kami kunjungi secara cermat agar bisa merasakan semua pengalaman yang ditawarkan di Taman Nasional Komodo.
Kami memutuskan bermalam di Pulau Padar atas saran dari kapten kapal. Sampai Padar ternyata sudah lumayan sore. Meskipun kami mencoba mengejar sunset tapi akhirnya kelewat juga.

Pulau Padar


Kami bermalam di Pulau Padar dengan tujuan bisa hiking dan melihat sunrise keesokan harinya. Selain kami, ada sekitar lima kapal lain yang sepertinya juga berniat mengejar sunrise. Saya sendiri sebenarnya nggak begitu excited dengan sunrise di Padar. Satu-satunya alasan saya memilih hiking pagi-pagi adalah karena matahari yang belum terlalu terik.


Jam 5.30 pagi kami mulai mendaki dan ternyata udah ramai. Mataharipun seperti muncul tergesa-gesa. Baru setengah jalan, sinar matahari udah mencuat-cuat meskipun mataharinya memang belum muncul. Daaan ternyata saudara-saudara, pemandangan Padar saat detik-detik munculnya matahari ini cantik banget! Jauh melebihi ekspektasi saya. Saya udah pernah sebut kan kalau sunrise disini cantik, nah pink shades yang muncul menjelang sunrise makin menambah cantik pemandangan Padar. Jadi saya sarankan kalau island hopping, wajib kejar sunrise di Padar. Ohya, bagi yang hobi foto, nyaris semua spot di Padar itu fotogenik.  


Jalur pendakian Padar sebenarnya nggak terlalu terjal, tapi cukup menyusahkan kalau pakai sandal jepit atau casual shoes. Saran saya pakailah sepatu yang tepat, paling nggak training shoes atau sandal tracking. Jalur turun selalu lebih sulit dibanding jalur pendakian (ya meskipun sama aja jalur yang itu-itu juga). Yang penting hati-hati dan fokus. Saya aja yang belum pernah naik gunung bisa kok.

Kami turun kembali ke kapal jam 8 pagi. You know what, jam segitu aja panasnya udah menyengat dan matahari udah sangat terik. Nggak kebayang kalau naik siang-siang.

Pulau Rinca


Dari Pulau Padar kami beranjak ke Pulau Rinca dengan tujuan untuk bisa melihat komodo. Kalau kata Bli Indra rugi banget ke Taman Nasional Komodo kalau nggak melihat komodo secara langsung.
Kami memilih mengikuti saran kapten kapal (lagi) untuk ke Pulau Rinca daripada ke Pulau Komodo. Pulau Rinca dan Komodo sebenarnya masih merupakan satu kawasan Taman Nasional Komodo. Katanya sih komodo di Rinca lebih mudah ditemui. Pulau Rinca sendiri disebut Loh Buaya. “Loh” artinya darat, dan “Buaya” adalah sebutan orang-orang lokal untuk komodo. Pertama kali mereka melihat komodo, mereka pikir itu sejenis buaya.


Sampai di Rinca kami disambut oleh pemandu (atau biasa disebut ranger) yang mengantarkan kami ke loket untuk mengurus tiket masuk. Kami membayar beberapa retribusi yang totalnya sekitar IDR 300.000. IDR 100.000 untuk kapal, 80.000 ranger, dan sisanya retribusi masuk kawasan taman nasional untuk 3 orang.

Ranger kami baik banget dan memberikan penjelaskan secara lengkap. Di Rinca kita bisa memilih mau mengambil short, medium, atau long track untuk tracking. Kami sendiri memilih short track dan berharap bisa bertemu komodo.


Kata ranger bertemu komodo itu untung-untungan. Biasanya komodo banyak terlihat di pagi atau sore hari. Kalau pagi mereka keluar untuk berjemur. Mungkin dengan tujuan menghangatkan badan karena mereka berdarah dingin. Karena kami sampai di Rinca menjelang makan siang, no hope lah akan ketemu komodo. Ranger hanya bilang kemungkinan kita bertemu komodo di sekitar dapur karena komodo suka menciumi wangi masakan dan menunggu sisa-sisa makanan yang berjatuhan. Ohya, komodo di Taman Nasional Rinca ini nggak pernah dan nggak boleh difeeding. Para komodo ini dibiarkan tetap liar sesuai habitatnya. Di Rinca juga banyak binatang-binatang lain seperti kerbau, rusa, burung, monyet, dan ular yang menjadi makanan komodo yang bisa puas dilihat kalau kita mengambil long track.

Dan benar saja, saat kami melewati dapur ada beberapa komodo berukuran sedang menunggu disekitarnya. Komodo itu bisa kamuflase juga lho. Saya sempat nggak menyadari keberadaan mereka karena mirip dengan kayu penyangga dapur.

Komodo benar-benar hewan yang superior, kalau menurut kami kelemahannya cuma satu, habitatnya terbatas. Komodo punya kecepatan, insting tajam, senjata ekor yang mematikan (selain lidahnya juga beracun karena sarang bakteri), dan antiracun. Saya kaget-kaget denger penjelasan ranger yang bilang komodo bahkan memakan ular berbisa karena nggak ada racun yang bisa menembus antibodinya. Well done!


Sebelum mengakhiri tracking kami beruntung banget bisa melihat satu komodo baru keluar dari tempat istirahatnya dan dengan gagah berlenggok menuju ke arah kami. Langsung saja ranger menawarkan untuk mengambilkan foto. Ya ampun super puas!

Beranjak dari Pulau Rinca, kami berencana mampir ke Pulau Kelor sebelum pulang ke Labuan Bajo. Tapi dasar kami sudah capek dan malas, apalagi melihat kalau di Kelor harus tracking lagi atau berenang. Kami merasa sudah cukup lengkap dengan pengalaman menyenangkan selama dua hari ini.

Kami sampai di Labuan Bajo menjelang sore. Happy banget deh bisa pengalaman island hopping yang super seru. Memang benar sih kata teman-teman, mereka yang udah pernah ke sini pasti ingin balik lagi. Worth the money and the “tanned skin” lah!       


Read other stories


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Wednesday, May 10, 2017

Komodo Sailing Trip #1 : Kanawa and Pink Beach


Tujuan utama liburan saya ke Labuan Bajo tentu ingin merasakan pengalaman berlayar dan hidup di atas kapal laut meskipun cuma satu malam. Saya, Bli Indra, dan adik saya akhirnya sewa kapal untuk private trip karena beberapa teman Bli Indra yang awalnya direncanakan ikut ternyata nggak jadi. Tapi ternyata biaya sailing trip dan island hopping rata-rata dihitungnya per orang, jadi sedikit banyak bedanya nggak signifikan. Kami sewa kapal non AC (dengan fan). Kapalnya cukup besar dengan dua kamar tidur yang cukup untuk 5-6 orang. Dalam kapal Cuma ada kami bertiga ditambah dua crew kapal (kapten kapal dan asistennya). Kapten kapalnya laki-laki paruh baya asli Labuan Bajo yang lumayan suka ngobrol terutama tentang tamu-tamu sebelumnya. Ohya, jangan khawatir dengan makanan. Gizi kami sangat terjamin dengan makanan yang melimpah ruah. Mulai dari pisang yang selalu tersedia buat snack, kemudian sarapan, makan siang, malam, sampai jus juga bisa dipesan. Kapten kapalnya lumayan jago masak, jadi kami sangat menikmati saat-saat makan di atas kapal.

Kami berangkat dari pelabuhan sekitar jam 8 pagi. Hari pertama kami memutuskan untuk “berlatih renang”. Awalnya saya nggak mau basah-basahan di hari pertama, tapi kapten kapal menyarankan ke Kanawa dan Pink Beach dulu biar sekali jalan.   

Kanawa Island


Sekitar jam 10 pagi kami sampai di Kanawa. Meskipun namanya mirip dengan Kenawa di Sumbawa tapi penampakannya sedikit berbeda. Setelah kami tanya kapten kapal, kanawa ternyata adalah nama pohon yang banyak tumbuh di kedua pulau ini makanya dinamakan begitu.
Kanawa adalah pulau cantik yang nampaknya diproyeksikan untuk resort. Biaya masuknya IDR 100.000 per rombongan. Lucu banget kapten kapal kami kasih warning, “Nanti di Kanawa jangan duduk di kursi di pinggir pantai ya nanti kena charge lagi.”


Kanawa adalah pulau dengan spot snorkeling yang bagus. Pantainya bersih dan cantik. Untuk yang nggak bisa renang seperti saya, banyak tempat dangkal yang bisa dijadikan tempat latihan dan lumayan mudah melihat ikan-ikan karena mereka berenang sampai mendekati garis pantai. Di sini saya melihat banyak bintang laut dan bulu babi, bahkan saya beruntung bisa melihat baby shark melintas di depan saya. Pas itu saya heboh sendiri! Tapi saya nggak tahan lama-lama berenang di area pantai karena harus menghadapi sengatan ubur-ubur kecil. Spot snorkeling di area dermaga dipenuhi lebih banyak ikan beragam jenis. Betah banget exploring sebelum tiba-tiba jadi ramai banget dan sedikit nggak nyaman karena banyak kapal udah mulai nyandar. Jadi kami memutuskan beranjak dari Kanawa dan melanjutkan perjalanan ke spot berikutnya.

Pink Beach


Kami sampai di Pink Beach sekitar jam setengah 2 siang. Saya pikir, “Males lah siang-siang nyebur, panas!” Tapi begitu sampai di sana keengganan saya berubah jadi excitement, saya betul-betul kalah dengan apa yang alam tawarkan. Pantainya cantik, fotogenik, ditambah airnya bening dan adem. Kami diberikan batas waktu sampai jam 4 sore biar bisa kejar sunset di Pulau Padar. Kelihatannya lama ya, tapi serius deh, nggak berasa.
Ohya, pasti udah pada tahu kenapa pantai ini disebut Pink Beach. Jadi, di pantai ini memang saya lihat banyak pecahan coral warna merah yang memberikan warna pada pasirnya. Apalagi waktu tersapu air laut, jadi tambah kelihatan pink!


Saya termasuk orang yang takut air, nggak betahan kalau berendam. Tapi di Pink Beach bisa lama dan nggak ingin berhenti. Saat masuk ke air jadi malas naik ke pantai, kecuali terpaksa waktu napas udah ngos-ngosan. Ikan dan terumbu karang di Pink Beach warna-warni, lebih beragam dari Kanawa (ini hanya explore di area yang masih dekat pantai lho ya). Awalnya saya takut banget gosong, tapi begitu masuk air jadi lupa dan masa bodo.


Emang bener ya nasihat yang bilang, jangan biarkan persepsi orang bikin kita takut mengeksplorasi. Kalau takut hitam terus kapan kita menikmati alam. Percayalah, warna kulit sejatinya akan kembali ke warna sebagaimana dasarnya. Yang penting ingat pakai sun protection biar kulit nggak terbakar dan rawat dengan moisturizer yang ekstra lembab biar nggak kering dan pecah-pecah! It’s okay being tanned but glowing kan.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Monday, May 8, 2017

Exotic Labuan Bajo

photo credit @aryadimd
Picking Labuan Bajo as one of the place I have to visit in Indonesia absolutely no wrong! Mengunjungi Labuan Bajo sudah menjadi bucketlist saya sejak kira-kira tiga tahun yang lalu. Awalnya saya tertarik karena melihat foto-foto teman yang luar biasa bagus dan “menjual”. Kemudian saya ingin merasakan pengalaman yang mereka ceritakan kalau Labuan Bajo sangat indah, nggak cuma di foto, sampai-sampai mereka yang sudah pernah datang ingin kembali lagi. Tujuan saya datang tentu saja ingin berlayar plus island hopping. Tapi sebelumnya saya ingin ceritakan dulu kesan pertama saya tentang Labuan Bajo.  


The City

Labuan Bajo adalah salah satu desa/kelurahan di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Kalau dilihat di peta, Labuan Bajo terletak di ujung Barat Pulau Flores. Yang saya lihat, pusat perekonomiannya relatif kecil. Jalan utamanya dipenuhi agen-agen wisata yang menawarkan trip pulau (island hopping) dan kegiatan diving. Ada juga cafe-cafe dan bar, mirip dengan jalanan di Kuta dan Legian. Cuma bedanya di sini terlihat sepi. Bahkan di malam hari wisatawan yang nongkrong pun sangat sedikit. Mungkin karena fokus orang yang datang ke Labuan Bajo bukan untuk tinggal tapi hanya untuk singgah lalu live on board alias "melaut".
Ohya, saat saya kesana jalanan di tengah kota rusak parah dan berdebu. Sayang banget ya, padahal pariwisata Labuan Bajo termasuk yang diproyeksikan menjadi pariwisata berkelas internasional.

Where to eat

Saya, Bli Indra dan adik sempat mencoba makan di salah satu cafe yang ratingnya bagus di situs ulasan travelling. Tapi entah kenapa rasanya nggak sesuai di lidah dan porsinya luar biasa besar. Mungkin rasanya agak hambar karena menyesuaikan dengan selera wisatawan asing.
Kami sangat menyarankan untuk makan malam di Kampung Ujung. Di sini kita bisa menikmati bakaran berbagai jenis ikan laut segar. Enaknya di pesisir itu gampang banget kalau mau makan ikan segar. Kalau ke Kampung Ujung, cobalah makan di Warung Mama Sindy. Kami memesan ikan kerapu macan yang gosipnya dihargai sangat mahal kalau sudah masuk restaurant. Paket seorang cuma IDR 35.000 sudah termasuk nasi, lalapan, dan air dalam kemasan gelas. Bagi penyuka sambal, Mama Sindy akan membuatkan sambal dabu-dabu yang super enak dan sangat pas kalau dimakan dengan ikan. Mama Sindy baik banget, waktu saya tanya resep sambalnya malah disuruh datang lagi keesokan harinya, “Biar bisa dibelikan bahan-bahannya dulu di pasar,” katanya.

kerapu macan di Kampung Ujung
The People
Orang-orang Labuan Bajo sangat lugu dan ramah, ya contohnya Mama Sindy yang saya ceritakan tadi. Awalnya saya nggak percaya ketika suami bilang begitu, sampai akhirnya saya merasakan sendiri. Mereka nggak pelit informasi, nggak menyesatkan wisatawan juga. Jadi jangan khawatir kena tipu.


Hari itu, saya berangkat dari Bali sekitar jam 1 siang, sampai di Labuan Bajo udah lumayan sore. Dari bandara kami langsung pergi ke (kata orang sana) Bukit Cinta atau juga disebut Sunset Hill, untuk melihat sunset dengan latar teluk. Belakangan saya baru menyadari kalau sunset (dan sunrise) disini nggak pernah nggak cantik, ya sepanjang nggak turun hujan. 


Read other stories,


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Tuesday, August 9, 2016

Until Our Next Hello, Japan! #GianinJapan Travel Diary Part 3


Hari ketiga (3/7/2016), kami berencana bangun lebih awal untuk bisa menikmati Arashiyama Bamboo Path yang sepi. Kami kan travellers yang “selow” banget, nggak pernah kejar-kejaran sama matahari, dan biasanya ngurus rumah dulu sebelum pergi main. Jadi hari ini kami semangat bangun lebih pagi. Apartemen lumayan dekat dengan Arashiyama Park (Bamboo path termasuk juga di kawasan itu), cukup dengan 30 menit berjalan kaki (kurang lebih 3 km), sudah termasuk ngaso ngambil foto Katsura River dan jalanan Arashiyama yang cantik. Kalau mau sewa sepeda juga boleh, harganya sekitar 700 yen kalau nggak salah.

Arashiyama Bamboo Path



Arashiyama Bamboo Path juga icon Kyoto yang populer dan wajib didatangi. Kita bisa berjalan menyusuri hutan bambu yang cantik sambil mendengar sayup-sayup suara burung. Calming! 
Tempat ini sebenarnya mengingatkan saya pada bamboo forest di Desa Tradisional Penglipuran, dekat rumah saya. Cuma bedanya, di Penglipuran bamboo forestnya kurang dikelola dengan baik. Coba dibikin bamboo path mungkin akan sama cantiknya ya!


Keluar dari hutan bambu, kami berjalan berkeliling melihat rumah-rumah dengan desain yang masih tradisional. Ada beberapa ryokan, tapi saya kok nggak menemukan pemandian umum ya. Mungkin saya nyarinya memang kurang niat :).
  

Yasaka Shrine



Berangkat pagi membuat kami punya banyak waktu untuk jalan-jalan. Tetep setelah masak makan siang dan istirahat kami memutuskan mengunjungi kuil lain di daerah Gion yaitu Yasaka Shrine. Masih dengan bus andalan, bus nomor 3, kami menuju downtown menjelang sore. Gion dan Yasaka Shrine letaknya kira-kira hanya 2 km dari Shijo Kawaramachi.


Yasaka Shrine adalah salah satu dari beberapa kuil di Kyoto, yang juga disebut Gion Shrine. Arsitekturnya hampir sama dengan kuil Shinto lainnya. Ohya, festival musim panas di Jepang akan dimulai semingguan lagi, jadi hari itu kami melihat beberapa pemuda dan pemudi berkumpul melakukan persiapan. Di Gion sendiri akan dilangsungkan Gion Matsuri, yang berpusat di Shijo.



Nishiki Market



Hari keempat (4/7/2016) di Arashiyama-Kyoto, kami memutuskan untuk jalan-jalan santai saja di downtown. Hari ini kami berburu Okonomiyaki dan mengobati rasa penasaran kami tentang kuliner di Nishiki Market. Sebelumnya, kami pernah mampir ke Nishiki Market di sore hari, eh ternyata toko-toko kebanyakan sudah tutup. Jadi, bagi kamu yang ingin ke Nishiki Market, sebaiknya sekitar jam 12 karena di jam ini semua toko sudah buka.
Nishiki Market adalah “all in one place to go shopping” di Kyoto. Mulai dari foods, dried foods, fashion, beauty, utilities ada di sini. Tempat ini biasanya jadi andalan kalau ingin berburu oleh-oleh. Selain banyak pilihan, harganya pun cenderung terjangkau.

 
Akhirnya kamipun menemukan tempat makan Okonomiyaki yang representatif di area Nishiki Market, namanya Mr. Young Men. Dengan harga satu porsi rata-rata 800 yen, kami sudah bisa menikmati set Okonomiyaki yang enak dan mengenyangkan. Makan Okonomiyaki, checked!



Selebihnya kami berkeliling retail store di jalanan Shijo dan berakhir dengan satu tentengan besar H&M. Hahahah travelling belum lengkap tanpa shopping kali ya :’) .

Matsuo Taisha


Nggak kerasa hari ini hari terakhir kami di Arashiyama. Di hari kelima ini (5/7/2016), pagi-pagi kami mengunjungi kuil dekat apartemen, Matsuo Taisha. Sekalian kami ingin mencoba DIY Yukata yang sudah saya siapkan. Meskipun modelnya nggak sama persis, tapi tetep cantik lah ketika kami pakai. Berasa orang Jepang meskipun cuma sekejap :D.


Kinkaku-ji Temple



Biar nggak nyesel, kami berusaha memanfaatkan waktu semaksimal mungkin mengunjungi semua tempat “wajib” di Kyoto. Sebelum pulang, kami mengunjungi tempat wisata terakhir, Kinkaku-ji Temple. Hari ini saya juga ketemu bibi yang kebetulan sedang tugas ke Osaka. Sekalian aja saya seret ikut ke Kinkaku-ji.


Kinkaku-ji adalah kuil Budha yang sangat populer dan termasuk yang paling ramai. Kinkaku-ji yang berarti paviliun emas adalah kuil yang berlapis emas yang di bangun di tengah kolam besar. Arsitekturnya memang cantik dan megah, nggak heran kalau kuil ini selalu ramai dipenuhi wisatawan.




Sebelum kesorean, kami segera menuju Kyoto St. untuk mengejar kereta cepat ke Kansai International Airport (KIX). Semingguan ini benar-benar fun dan memorable. Banyak jalan, banyak melihat kebiasaan orang-orang Jepang, banyak mengamati sistem dan tata kota di Jepang, banyak foto-foto dan banyak belanja juga, hahaha. Sebenarnya masih ada beberapa daerah yang belum dikunjungi dan to do list yang belum kesampaian. Mudah-mudahan nanti saya punya kesempatan lain untuk bisa kembali mengunjungi Jepang.


See you on another hello!



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Monday, August 8, 2016

Left My Heart in Kyoto #GianinJapan Travel Diary Part 2


Hari ini (1/7/2016) saya bangun di apartemen sewaan via Air BnB lumayan siang setelah tidur beralaskan futon (tempat tidur Jepang yang bisa dilipat) untuk pertama kalinya. Padahal kedua travelmates saya pagi-pagi udah longrun ke Arashiyama park.

Prioritas kami hari ini adalah mengisi kulkas dengan stock makanan sehat. Jadi kami wisata supermarket dulu ke Daiso dan pulang-pulang membawa ini...


Belanjaan kami untuk kira-kira dua hari ini sama harganya dengan bill makan ramen semalam. See? Tips dari saya kalau mau tinggal lumayan lama di Jepang, mendingan masak. Ya nggak tiap hari juga, kalau bosan bisa diselingi jajan di luar. Mengingat harga bahan makanan di sini (Kyoto) lumayan murah. Ada yang bahkan lebih murah dari supermarket di Indonesia. Cari bumbu masak di sini juga gampang kok, di setiap supermarket pasti tersedia lengkap bumbu baik yang masih mentah (bawang putih, bawang bombay) maupun yang dalam kemasan (merica bubuk, bawang putih bubuk, perasa).

Arashiyama, tempat apartemen kami berada, adalah salah satu daerah yang berada di Kyoto. Dalam trip ini, target kami paling tidak bisa mengunjungi dan mengenal Osaka dan Kyoto. Dan Kyoto menurut saya adalah daerah yang sangat menyenangkan.
Apartemen kami dekat dengan stasiun dan halte bus, kalau ke halte bus cukup dua menit berjalan kaki ala Jepang. Dari halte terdekat (Umezunishiuracho St.) ke downtown (kawasan perbelanjaan dan tourist spot di Kyoto, yaitu di Shijo Kawaramachi) kami tinggal naik bus nomor 3 sekitar 15-20 menit.


Kyoto nggak seramai Osaka, dan daerah ini budaya Jepangnya masih terasa kental. Hampir di setiap sudut wilayah dan dalam jarak yang berdekatan kita bisa melihat temples  dan shrines. Temple adalah istilah yang digunakan untuk kuil agama Budha, sementara shrine adalah istilah untuk kuil agama Shinto.
Nah, selama beberapa hari dari tanggal 1 sampai 4 Juli, kami berencana menghabiskan waktu di Kyoto untuk “living like locals” dan mengunjungi beberapa temples maupun shrines yang iconic di Kyoto. Selain itu, kami juga akan mengunjungi tempat-tempat “wajib” lainnya di Kyoto.
Dan berikut ini tempat-tempat yang berhasil kami kunjungi.

Kiyomizudera Temple



Dari Shijo Kawaramachi, kami ganti bus sekali menuju halte Kiyomizudera. Kami sampai sana udah lumayan siang karena kami memutuskan masak makan siang dulu di apartemen. Setelah dua hari gloomy akhirnya musim panas mulai terasa. Hari itu cerah dan lumayan panas. Dari halte kami berjalan sekitar 15 menit menuju Kiyomizudera.
Kiyomizudera Temple letaknya di atas bukit, didesain sedemikian rupa sehingga terlihat melayang. Lumayan susah mengambil foto yang oke karena teknik fotografi saya yang seadanya dan lewat tengah hari posisi matahari sudah nggak bersahabat (untuk ambil foto kuilnya backlight parah). Ternyata di sekeliling kuil ini ada banyak kuil-kuil Shinto. Ada satu kuil yang banyak didatangi untuk memohon jodoh/kelancaran kehidupan percintaan. Tenang, udah saya doakan kok!
Saya juga sempat mencoba berdoa sambil mengelilingi bawah tanah kuil, yang awalnya saya pikir horor. Kami sampai coba dua kali sambil mencoba menghitung pegangan yang seperti genitri apa jumlahnya 108.


Di Kiyomizudera banyak wisatawan yang menyewa yukata untuk bisa merasakan pengalaman layaknya orang lokal. Orang Jepang memang biasanya memakai yukata jika melakukan doa di kuil. Saya pengen sih, tapi jadi mikir-mikir lagi setelah tahu harganya 3000 yen. Hahaha benar-benar tourist kere yang perhitungan ya!

Fushimi Inari Taisha



Hari kedua di Kyoto (2/7/2016) kami berencana ke Fushimi Inari Taisha. Masih menggunakan bus, kami naik bus arah Stasiun Kyoto (Kyoto St. kalau nggak salah nomor 26) kemudian ganti bus ke arah Fushimi Inari. Fushimi Inari Taisha adalah kuil Shinto yang terkenal dengan gerbang-gerbangnya. Kalau ada foto travelling Kyoto menampakkan gerbang merah yang tersusun dengan rapi dan cantik, nah itu dia Fushimi Inari Taisha. Gerbang kuil atau disebut dengan “tori” di Fushimi Inari Taisha jumlahnya ribuan, yang ada di sepanjang jalan menuju ke Gunung Inari, tempat kuil ini berada.


Gunung Inari memang nggak terlalu tinggi, hanya 233 meter di atas permukaan laut, tapi lumayan berasa juga waktu kami hiking sampai puncak.
Oh ya, waktu mengamati tori-tori di sini, saya penasaran apa sih yang ditulis di tiap-tiap tori? Ternyata, itu adalah nama dari penyumbang pembangunan tori tersebut.
Di sini wisatawan lebih sedikit dibandingkan dengan Kiyomizudera, saya lihat banyak orang lokal berdoa menggunakan yukata since that day was Sunday. Soooo beautiful!

bersambung ke part 3


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+