HOME      ABOUT      CONTACT      INSTAGRAM
Showing posts with label Life Stories. Show all posts
Showing posts with label Life Stories. Show all posts

Monday, March 11, 2019

Kelahiran Manusaka

 
Beberapa saat setelah melahirkan Manusaka, saya langsung bilang ke ibu saya, “Pantes ya Bu, anak yang berani sama ibunya itu durhaka.”

Kelahiran Manusaka udah saya tunggu-tunggu sejak usia kehamilan 38 minggu. Tapi emang anak bayi mencari waktu lahirnya sendiri ya, jadi sampai usia kehamilan 38 mendekati 40 minggu belum ada tanda-tanda sama sekali dia mau ketemu ibu bapaknya. Saya jadi agak takut apa saya yang nggak menyadari rasa kontraksi atau nggak tahu jangan-jangan ketuban udah rembes. Untungnya pas kontrol ke DSOG di usia kehamilan 39 minggu semuanya masih sehat dan normal.

Cita-cita saya tentu saja melahirkan secara normal. Kembali ke kodrat wanita lah, kalau nggak ada sesuatu yang kurang normal saya yakin bisa. Saya belajar napas perut yang katanya bisa bantu melancarkan proses melahirkan, sampai nggak henti-henti yoga untuk buka panggul. Harapannya sih sesuai afirmasi yang saya tulis (melahirkan nyaman, normal, prosesnya cepat, dll).

Hari itu Sabtu 20 Oktober 2018, usia kehamilan saya 39 minggu 5 hari, seperti biasa kalau weekend saya pasti ditemani suami jalan-jalan sambil olahraga. Nggak ada yang aneh, semua masih seperti biasa. Kalau ngerasa tulang kemaluan disundul-sundul kan wajar karena kehamilan sudah cukup bulan, lagian saya merasakan itu udah dua minggu terakhir.

Pas tidur keanehanpun terjadi. Perut saya kram seperti waktu menstruasi. Dalam hati, “ini kali ya yang namanya kontraksi.” Kram yang saya rasakan memang berpola, hilang muncul dalam waktu 1-2 menitan. Sambil menahan kontraksi saya berusaha tidur. Nggak bisa! Wah, saya langsung hitung jarak kontraksi dengan aplikasi Kontraksi Nyaman Bidan Kita dan langsung ada notifikasi untuk segera menemui provider. Seperti inilah hasilnya.


Semalaman itu saya benar-benar nggak bisa tidur. Antara nahan kram atau excited mau ketemu anak bayi. Sampai akhirnya jam tiga pagi saya kebelet buang air kecil dan melihat ada flek darah. Yay, sebentar lagi ketemu Manu!

Meskipun degdegan dan ibu mertua udah mulai panik, saya menunggu dulu sebelum ke provider. Karena udah dapet ilmu waktu sesi yoga di ProV Clinic, saya mandi dulu (sambil nahan kontraksi), sarapan dulu, dan bedakan dulu.

Ketuban saya nggak rembes, jadi saya putuskan untuk melahirkan di bidan aja. Jam 7.30 saya sampai di bidan dan di VT ternyata udah bukaan 4. Senang bukan main! Saya berusaha jalan-jalan tapi ternyata kalau kontraksi lebih enak dibawa main birthing ball. Jam 10.30 di VT lagi udah langsung maju ke bukaan 8. Bidan provider saya ini sayangnya nggak sabar buat menggunting selaput ketuban saya yang ternyata masih tebal. Jam 11-an (entahlah saya udah mulai nggak fokus saking sakitnya ini kontraksi) masuk bukaan 10 saya mulai merasa ada yang mendorong-dorong dari dalam. Susah banget ngeden pakai teori pernapasan perut! Saya pasrah aja pas digunting perineum. Setelah 3 kali ngeden akhirnya Manusaka lahir. Begitu lahir, rasa sakit saya yang luar biasa tadinya itu langsung hilang gitu aja. Bener-bener magical moment! Beberapa saat setelah melahirkan Manusaka, saya langsung bilang ke ibu saya, “Pantes ya Bu, anak yang berani sama ibunya itu durhaka.”

Manusaka lahir 21 Oktober 2018 pukul 11.58. Kami memberi dia nama Gede Manusaka Abirama, Gede (anak pertama) Manusaka (berkesinambungan) Abirama (pembawa kebahagiaan). Semoga Manusaka menjadi anak yang selalu memberi kebahagiaan bagi keluarga dan sekitarnya.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Thursday, October 4, 2018

Counting Days : The Third Trimester


Nggak kerasa udah masuk trimester ketiga aja! Makin excited dan deg-degan mau ketemu adik bayi. Saking menyenangkannya trimester kedua, saya nggak sadar dalam hitungan bulan saya akan menjadi seorang ibu. Syukurlah kehamilan saya hingga trimester ketiga ini sehat dan nyaman.
Trimester ketiga dipenuhi dengan persiapan-persiapan mulai dari belanja kebutuhan bayi (yang tidak ada habisnya), olahraga yang makin kenceng, memilih tempat bersalin, dan mengelola emosi biar nggak khawatir dan ketakutan.

1.     Belanja kebutuhan bayi
Mempersiapkan kebutuhan bayi memang sangat tricky. Apalagi untuk saya yang adalah anak dan menantu pertama yang nggak mungkin dapet hibahan dari kakak atau ipar. Meskipun udah buat list belanja, tetap saja lapar mata. Karena anak pertama, semua barang-barang yang pernah direview Instagram mommy ingin saya beli. Tapi biar nggak kalap-kalap banget, saya rajin-rajin tanya teman yang sudah lebih dulu jadi ibu.
2.     Olahraga
Kalau ini nggak usah ditanya ya. Hampir semua artikel kehamilan menyarankan ibu hamil untuk rajin berolahraga. Masuk trimester ketiga saya tetap meneruskan renang dan prenatal yoga di Pro V Clinic. Karena nggak selalu dapat jadwal yoga pas weekend  (iya, cari jadwal yoga di Pro V pas hari Sabtu itu susah banget!), saya rajin mencatat tips-tips yoga yang diberikan oleh Mbak Mila dan Mbak Ochan. Selain itu, saya mulai rajin praktik yoga sendiri setiap pagi (beneran tiap hari) dipandu video gerakan yoga dari Bidan Kita. Syukurlah karena lumayan rajin olahraga, kehamilan saya nggak berat, minim sakit punggung, dan saya nggak pernah mengalami sulit tidur.
3.     Memilih tempat bersalin
Karena memutuskan untuk melahirkan dekat dengan keluarga (di Bali), jadi saya harus melakukan survey ulang atas tempat bersalin yang support melahirkan dengan nyaman dan alami. Awalnya sih kepikiran mau di Klinik Bumi Sehat Ubud, tapi berhubung keluarga tinggal di Singaraja, saya harus cari alternatif lain. Tapi tetep ya, saya pengennya di klinik bersalin saja. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar sehingga saya nggak perlu menjalankan plan B. Doakan!
4.     Mengelola emosi
Ini nih yang gampang-gampang susah. Gimana sih rasanya mau melahirkan seorang manusia baru ke dunia? Excited, takut, cemas, happy, dan ragu-ragu bercampur jadi satu. Saya harus rajin-rajin afirmasi dan meditasi biar tetep waras. Gimana coba membayangkan dan menyiapkan diri untuk sesuatu yang benar-benat nggak tahu rasanya. Sampai saat ini saya masih terus berupaya untuk banyak membaca, belajar, dan mencari referensi mengenai kelahiran yang nyaman. Yakin semua bisa dipersiapkan asal kita mau belajar dan berusaha.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Tuesday, October 2, 2018

Everything is Better and Happier on The Second Trimester!


Memasuki trimester kedua, tenaga saya muncul kembali entah dari mana. Rasa mual menghilang dan pola makan saya kembali bisa diatur. Makanan yang dimakan lebih variatif dan saya udah semangat  lagi untuk masak! Yey! Saya agak menyesal selama dua bulan awal kehamilan beli makanan terus, ngerasanya kurang bernutrisi dan nggak diolah secara baik. Tapi ya apa mau dikata, masih untung pengen makan kan, hehe. Syukurnya sampai lewat trimester pertama saya nggak mengalami ngidam (atau jangan-jangan saya yang nggak sadar kalau udah mengalaminya). Nggak pernah kepengen banget sama satu makanan spesifik yang sampe ngeces. Ya, saya anggap ini kooperatifnya adik bayi karena tahu bapaknya di luar kota.

Saya happy banget menjalani trimester kedua kehamilan ini. Karena badan udah fit lagi, saya langsung mencari-cari opsi olahraga yang bisa saya lakukan biar badan nggak kaku-kaku amat dan kenaikan berat badan nggak gila-gilaan. Opsi pertama saya adalah renang, karena ada kolam renang yang dikelola kantor dekat dengan tempat tinggal saya. Selain renang, di minggu ke-19 saya mulai ikut kelas yoga di Pro V Clinic. Kenapa Pro V Clinic padahal jauh banget di Permata Hijau? Semuanya berawal akibat suka kepoin Instagram doula hits sejagat dunia maya, Mbak Mila (@jamilatus.sadiyah). Selain itu, saya nggak menemukan opsi tempat prenatal yoga lain yang lebih dekat (dan affordable). Oh ya, saya juga belajar bangun lebih pagi untuk melakukan yoga ringan dipandu video yoga dari @bidankita. Lumayan membantu dalam mengatasi pegal-pegal, terus jadi lebih fresh saat beraktivitas di kantor. Nggak lemes dan ngantukan!

Saat saya bilang tenaga saya kembali, benar-benar kembali seperti sebelum hamil. Saya udah kuat jalan-jalan muterin supermarket dan window shopping di mall, meskipun tetap saya batasi nggak pergi seharian. Takutnya saya semangat eh badan ternyata udah kecapekan. Bahkan pas libur Idul Fitri saya ngantri gila-gilaan di Museum MACAN! Terimakasih banyak anakku, udah selalu kooperatif sama ibu dan nggak pernah manja.


Apa nggak ada keluhan sama sekali?

Jelas ada dong. Awal trimester kedua saya sempat mengalami susah tidur karena mulai membiasakan untuk tidur miring ke sisi kiri. Menurut penelitian, tidur miring ke sisi kiri lebih baik karena aliran darah ke plasenta akan lebih banyak dan lancar. Jadilah saya sakit pinggang dan sering terbangun. Tapi untungnya hal ini cuma berlangsung 1-3 hari saja. Iya, saya memang dianugerahi bakat alami (hampir) selalu bisa tidur nyenyak.

Keluhan berikutnya, saya sempat mengalami ngilu di tulang kemaluan sebelah kiri. Hal ini sebenarnya wajar, karena rahim dan bayi yang berkembang mendesak otot-otot, termasuk di sekitar kemaluan. Agak nggak nyaman sih, tapi syukurlah setelah rajin berenang dan yoga, rasa sakitnya berangsur-angsur menghilang.

Kemudian, sekali-sekali saya mengalami juga yang namanya susah buang air besar. Ini yang paling nggak enak. Padahal saya selalu mengkonsumsi sayur dan buah. Mungkin memang kodratnya ibu hamil mengalami ini, jadi ya udah saya ikhlas aja.
Terlepas dari keluhan (yang minim), kehamilan trimester kedua ini benar-benar menyenangkan deh. Apalagi pas pertama kali merasakan tendangan adik bayi. Ya ampun excited dan gemes banget! Sambil menikmati kehamilan, saya juga nggak lupa untuk mencari referensi tentang melahirkan nyaman dan tips n trick nya. Saya juga membuat birthplan dan afirmasi terus sama adik bayi untuk proses melahirkan aman, selamat, nyaman, sehat, dan tanpa drama. Doakan ya, kami bisa bekerja sama untuk mewujudkan proses kelahiran normal yang minim trauma. 


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Monday, September 17, 2018

We Are Expecting! : The First Trimester


Bagaimana sih tahunya kalau sudah positif hamil?

Setelah melewati kesedihan dan putus asa karena keguguran, saya memang langsung mengambil ancang-ancang untuk bisa segera hamil lagi. Entah tepat atau konyol, hampir setiap hari saya mencari tulisan-tulisan di blog dan forum kehamilan tentang pengalaman keguguran dan keberhasilan untuk bisa segera hamil. Saya mencoba percaya kalau peluang hamil akan lebih besar ketika kita baru saja mengalami keguguran.

Tapi seyakin-yakinnya saya, tetap saja cuma bisa berdoa dan mengupayakan yang terbaik. Suami saya tetap dengan usahanya memperbaiki pola hidup (makan yang baik, minum vitamin yang diresepkan dokter, mengurangi beban kerja), dan saya dengan stress healing dan berusaha kembali hidup normal (olahraga dan nggak takut-takut berkegiatan ini itu). Kami juga berusaha mengatur jadwal berhubungan. Yang terpenting, kami bekerja keras untuk tetap happy dan enjoy our life.

Karena siklus menstruasi saya selalu mundur 1-2 minggu, saya nggak terburu-buru mencoba tes kehamilan ketika lewat minggu kedua saya belum juga menstruasi. Setelah lewat 2 minggu 4 hari, barulah saya memberanikan diri mencoba testpack pagi-pagi karena masih percaya urin pagilah yang terbaik untuk mengecek ada tidaknya hormon kehamilan. Antara yakin nggak yakin testpack, saya langsung degdegan ketika selang beberapa detik mulai terlihat garis kedua yang masih samar. Saya langsung melakukan tes kedua dengan testpack merek berbeda dan seneng banget garis kedua terlihat lebih jelas. Yes, saya hamil!

Apa langsung periksa ke dokter?

Nggak. Sebelum periksa ke dokter saya menunggu sekitar 4 minggu dengan harapan begitu periksa sudah terlihat bakal janin, syukur-syukur sudah bisa mendengar denyut jantung karena menurut hitungan manual kehamilan saya sudah akan berusia 8 minggu.

Saat pertama kali periksa ke dokter, dengan bodohnya saya malah pipis sebelum USG. Dan ternyata, yang terlihat hanya kantung kehamilan yang menurut alat USG dilihat dari ukurannya berusia 5 minggu. Kosong melompong. Antara nggak kelihatan karena tadi saya pipis dulu atau memang belum ada bakal janinnya. Kata dr. Arman kalau mau lebih pasti saya bisa coba USG transvaginal atau nanti aja periksa 4 minggu lagi untuk memastikan ada tidaknya janin.

Jeder! Baru tahu ya kalau dua garis yang muncul di testpack bukanlah jaminan kamu pasti hamil. Saat itu saya merasa takut dan cemas, gimana kalau gini, gimana kalau gitu. Tapi suami saya meyakinkan saya, terlihatnya kantung kehamilan adalah pertanda baik. “Yakin deh, anak kita ada di situ, nanti kita lihat 4 minggu lagi.” Makasih suami, kamu memang motivator nomor satu!

Tahu hamil meskipun ragu-ragu bikin saya lebih berhati-hati. Saya meminta untuk istirahat dari dinas luar kota kantor (maaf Pak Kepala Seksi!) dan menghentikan sementara semua kegiatan olahraga.
Sampai tiba waktunya saya melakukan pemeriksaan kedua. Nervous abis! Lebih grogi daripada waktu saya nikah dulu. Syukurlah! Saat dr.Arman menempelkan alat USG di rahim saya, si baby langsung memperlihatkan diri dan memperdengarkan detak jantungnya. Ya ampun terharu banget! Awalnya saya skeptis sama orang-orang yang bilang nangis ketika mendengar detak jantung pertama bayinya, ternyata memang benar begitu adanya. Magical!


Apa ada perubahan kebiasaan atau fisik pas tahu hamil?

Sampai pemeriksaan pertama saya sama sekali nggak merasakan perubahan berarti selain payudara yang agak membesar (sama aja kaya mau siklus bulanan). Seneng dong! Makan masih normal, tapi pas nimbang berat badan saya udah naik 3 kg.

Semua berubah ketika masuk bulan kedua. Tiap pagi mual meskipun nggak sampai muntah. Bahkan hari-hari tertentu mual bisa sampai seharian. Ngapa-ngapain males. Makan makanan manis mual (biasanya suka banget), pengennya yang asin dan berbumbu kuat. Minum air hangat nggak bisa. Tips yang saya ikuti dan lumayan berhasil adalah ngemil apel. Tiap hari saya selalu sedia apel potong. Ampuh banget mengurangi mual.

Selain itu, bawaannya ngantuk terus. Saat itu rata-rata jam 9 malam saya sudah tidur. Tapi bangunnya siang dan malas-malasan. Duh! Nggak teratur banget deh hidup. Masak nggak minat, pengennya beli aja yang praktis. Kalau lagi libur sehari bisa pesan 4-5 macam makanan, random abis!

Syukurnya kehamilan ini bukan tipe yang kalau mual harus dimuntahin, tapi harus diisi makanan. Ya, seenggaknya tenaga saya tetap full. Ngomong-ngomong meskipun tenaga full, yang lucu pas hamil trimester pertama adalah badan saya kayak lemah banget dan nggak kooperatif kalau diajak jalan-jalan. Jalan dikit sakit pinggang pengen duduk. Belanja di supermarket aja nggak sanggup antri di kasir. Untung ada suami yang siap sedia mengasistensi kalau lagi kumat.

Yang menguatkan saya di saat-saat mual dan lemes selain suami adalah rasa syukur dan excitement akan memiliki anak. Rasa syukur itu sumber kebahagiaan dan sumber semangat banget! Selain itu, penting memastikan kesiapan kita dan pasangan ketika memutuskan akan memiliki anak. Partner yang kooperatif menurut saya adalah kunci sukses menjalani kehamilan yang menyenangkan. Doakan si baby sehat terus ya, nanti cerita saya sambung di jurnal berikutnya.  



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Saturday, September 15, 2018

After a Hurricane Comes a Rainbow


Saya sering banget mempertanyakan rencana Tuhan untuk saya dan keluarga. Kenapa begini, kenapa nggak begitu. Tapi ternyata Tuhan sangat murah hati, saya aja yang suka emosi dan nggak sabaran. Mulai sekarang saya benar-benar harus sering mengucap syukur karena Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi kami.

Setelah mengalami keguguran spontan di awal tahun, tak disangka-sangka Tuhan kembali mempercayakan seorang anak kepada kami.

Jadi awal tahun itu setelah balik ke Jakarta dari cuti tahun baru, saya langsung memeriksakan kondisi kandungan ke dr. Arman, spesialis kandungan yang saya pilih untuk pemeriksaan pertama sewaktu testpack menunjukkan hasil positif. Saat periksa saya tahu calon anak saya udah nggak ada, tapi dr. Arman pura-puranya ingin memsatikan lagi. Saya cuma mau tahu kondisi rahim saya apa perlu tindakan kuretase atau nggak, karena saya ingin segera melakukan program lagi. Syukurlah dari hasil pemeriksaan ternyata saya mengalami abortus spontan yang nggak perlu kuretase. Kondisi rahim saya bersih dan boleh langsung usaha untuk hamil lagi.

Waktu itu saya tanya apa perlu meminum vitamin kesuburan? Eh, dokter malah ngetawain saya, katanya, “Ini kemarin kamu bisa hamil kan, jadi nggak perlu dulu minum-minum obat penyubur.” Ya alasan saya tetap di dr. Arman selain karena tempat praktik yang dekat, juga karena beliau selow abis. Selalu mengatasi kekhawatiran saya. Wajar kan, namanya juga hamil pertama. Dokter saat itu hanya menyarankan waktu berhubungan kalau mau program.

Syukur yang tak terhingga kepada Tuhan karena bulan Februari saya langsung telat menstruasi. Saya nggak sabar untuk langsung pakai testpack, dan bahagia banget pas saya lihat garis kedua meskipun masih samar-samar (lihat deh gambar TP yang bawah, bahkan garis keduanya nggak tertangkap lensa kamera).

Trauma? Nggak bisa dipungkiri saya lebih waspada setelah keguguran yang saya alami. Paranoid juga. Tiap mau buang air kecil saya selalu ketakutan akan pendarahan. Meski begitu, lama-lama saya sadar sebaiknya saya pintar-pintar mengelola pikiran untuk selalu positif. Terima kasih juga untuk anak saya yang nggak henti-hentinya membantu dan bekerja sama dengan ibumu ini.
Tulisan ini selain sebagai pengingat bagi saya, mudah-mudahan juga bisa memberikan semangat bagi wanita-wanita hebat lain yang sedang menunggu kehadiran anak. Sedikit banyak saya tahu rasanya ditanya-tanya sudah hamil belum, diragukan niatnya untuk punya anak, mengharapkan sesuatu yang nggak diketahui kepastiannya, dan sedihnya kehilangan.

Mungkin kalian akan bilang, “Ya kamu gampang cerita begini karena udah berhasil, coba kalau belum.” Well, saya mungkin sok tahu tentang perjuangan untuk memiliki seorang anak. Tapi sebagai seseorang yang juga pernah ada di posisi “berusaha” saya ingin mengatakan, “Percayalah, Tuhan pasti akan memberikan rejekinya di waktu yang tepat. Tuhan selalu punya rencana yang terbaik buat kita. Believe in Him, believe in your partner, believe in yourself, don’t give up!


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Tuesday, December 12, 2017

Planning for Pregnancy


Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya beberapa minggu lalu saya memutuskan untuk menemui dokter spesialis kandungan.

Bulan lalu tepat setahun saya menikah. Tanpa ada rencana menunda, sampai hari ini saya belum juga dipercaya Tuhan untuk hamil. Memang sih, 6 bulan pertama menikah saya masih berkeinginan fokus menyelesaikan kuliah. Tapi ternyata hamilnya tertunda sampai hari ini.

Meskipun sering tertekan dengan pertanyaan “udah isi belum?”, tapi saya bersyukur punya mertua yang pengertian. Tahu saya stres menghadapi pertanyaan seputar kehamilan, mertua saya belakangan ini udah jarang ngomongin cucu di depan saya. Paling pesannya cuma “makan yang banyak”. Ditanyain melulu kok belum hamil bikin saya kesel dan stres. Apalagi kalau ada yang banding-bandingin. “Si A belakangan nikah udah hamil tuh, kamu kok belum?”.  Serius deh, pertanyaan macam ini nyebelin banget dan nggak sopan. Meskipun niatnya cari topik pembicaraan atau basa-basi, saya sarankan lebih baik nanya yang lain aja. 

Balik lagi ke pemeriksaan kandungan.
Jadi, saya dan Bli Indra sudah sepakat kalau sampai setahun saya belum berhasil hamil, kami akan konsultasi ke dokter spesialis kandungan. Pemeriksaan yang saya jalani ini juga sebenarnya nggak direncanain banget. Berawal dari beberapa minggu setelah selesai menstruasi saya malah berdarah. Browsing sana sini, saya jadi ngarep kalau ini adalah darah akibat pelekatan sel telur yang berhasil dibuahi. Darah yang keluar memang nggak banyak, cuma 3 hari, itupun sedikit banget. Pokoknya persis deh seperti deskripsi darah pelekatan yang ditulis di blog-blog seputar kehamilan. Nah, memasuki  hari telat menstruasi ke-10 , saya coba test-pack. Hasilnya negatif. Sayapun kemudian memutuskan periksa aja sambil berharap hasil test-pack nya salah.

Saya memilih konsultasi ke dr. Alesia Novita, Sp.OG. karena sempat ditulis di salah satu blog yang nggak sengaja saya kunjungi waktu baca-baca soal kehamilan. dr. Alesia praktik di RSIA Bunda Aliyah (rating di Google 5 stars lho!), RSIA yang nggak terlalu besar tapi ramainya kayak pasar. Saya datang sari jam 9 pagi baru dipanggil untuk periksa jam 12.30 siang. Duh!

Jujur saya takut banget dengan pemeriksaan ini. Takut rahim nggak normal, takut kista, takut macam-macam. Pas masuk, dr. Alesia langsung menyapa saya dengan ramah. Saya udah niat mau curhat segala macam biar nggak galau-galau lagi mempersiapkan kehamilan. Nggak bertele-tele, sayapun langsung di transvaginal USG untuk mengetahui apa yang terjadi di rahim saya.

Iya, hasilnya memang saya belum hamil.
dr. Alesia bilang dinding rahim saya udah tebel banget, harusnya udah masuk masa menstruasi. Kenapa belum, karena sel telur saya ukurannya kecil jadi nggak ada sel telur yang lepas (bagian ini saya belum paham betul korelasinya). Dokter juga bilang rahim saya menghadap ke dalam. Itu aja.
Sisanya syukurlah normal.

Saya lega banget dengernya. Jadi nggak ada masalah dengan rahim saya, hanya harus minum tambahan vitamin untuk memperbaiki kualitas sel telur. dr. Alesia juga meminta bli Indra untuk sekalian periksa. Ya, bisa dibilang kami akan mulai program untuk memiliki anak. Doakan ya, mudah-mudahan segera.

Nggak menyia-nyiakan kesempatan, saya juga sekalian tanya tentang pantangan makanan dan olahraga. Intinya, boleh makan apa aja asal sudah dimasak sampai matang, termasuk lemon. Minum lemon bikin kandungan kering? Mitos. Olahraga gimana? Saya kan biasanya jogging 2-3 km tiap minggu, apa dapat mengganggu rencana kehamilan? Kata dokter malah harus olahraga 3 kali sehari dalam waktu 45 menit. Yeay! Happy banget, ternyata selama ini saya lebay suka menahan-nahan diri beraktivitas takut gagal hamil. Padahal kan hamil itu bukan penyakit atau keterbatasan. Jadi mulai sekarang saya nggak akan ragu-ragu lagi beraktivitas yang bikin saya lebih bahagia. Bersiap hamil bukan berarti menghentikan rutinitas positif dong.



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Thursday, November 9, 2017

Notes on Our 1st Year of Marriage


Hari ini tepat satu tahun saya dan Bli Indra menikah. Semua berjalan begitu cepat sampai-sampai nggak terasa. Yang terasa cuma jauh-jauhannya saja. Hehe, iya nih resolusi untuk segera berkumpul satu rumah belum juga bisa terwujud. Please, jangan dikasihani nanti kami jadi sedih.

Menjalani setahun pernikahan jarak jauh memang nggak mudah. Bener kata orang-orang meskipun waktu pacaran biasa berjauhan tapi kalau udah menikah akan terasa lebih sulit. Saya nggak ngomongin ini terkait dengan seks ya, tapi perasaannya memang beda sih. Lebih dekat dan lebih terikat. Tapi karena tuntutan kewajiban pekerjaan dan kami nggak punya solusi lain ya harus dijalani dengan semangat.

Kalau ingat awal menikah, yang paling sering dihadapi adalah dua pertanyaan ini. Pertama “ada kebiasaan dia yang bikin kaget nggak?”, dan kedua “udah isi belum?”.

Untuk pertanyaan pertama, syukurlah kami berdua dari pacaran kalau masalah sifat dan kebiasaan udah nggak jaim ya. Jadi benar-benar nggak ada yang beda. Paling yang bikin saya kaget malah saya menilai suami saya terlalu remeh. Haha, saya pikir dia orang yang berantakan yang suka naruh handuk dan baju kotor sembarangan. Saya lho di kantor aja suka ngomel kalau ada yang naruh barang nggak pada tempatnya. Eh tapi ternyata suami saya sangat mandiri dan rapi kalau urusan barang pribadi. Bersyukur banget deh. Bahkan kalau bepergian selalu ngingetin saya masalah packing dan checklist barang.

Menghadapi pertanyaan “udah isi belum”, terus terang saya stres berat. Awalnya sih santai dan berusaha cuek, tapi lama-lama kepikiran juga. Apalagi sampai bulan ke 12 ini saya belum juga hamil. Sering lho saya nangis sendiri kalau ingat kenapa belum berhasil hamil juga. Tapi nggak boleh putus asa. Untung makin kesini mertua dan orang tua saya udah nggak terlalu sering menyinggung masalah cucu, meskipun saya tahu mereka udah kepengen banget punya cucu. Dan sejak saya masuk kantor lagi, stres saya berkurang karena banyak teman-teman di kantor yang bisa diajak sharing masalah kehamilan dan memiliki anak. Memang sih saya menikah belum lama dan tinggal berjauhan pula. Tapi sesuai rencana begitu lewat satu tahun, saya akan segera berkonsultasi dengan dokter.

Ketika ditanya gimana setelah setahun menikah, saya merasa lebih banyak bahagianya. Bukan berarti saya akan mempengaruhi kalian untuk segera menikah juga. Menikahlah setelah cukup mengenal dan sudah banyak mempertimbangkan. Soalnya ini kan tentang memilih teman seumur hidup. And luckily I have found one. 



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Saturday, December 31, 2016

Welcoming 2017


Tahun baru 2017 tinggal beberapa jam lagi. Saya merasa tahun ini cukup cepat berlalu. Terimakasih Tuhan, Hyang Widhi, saya diberikan kesehatan sehingga bisa menikmati tiap momennya. Saya juga merasa begitu banyak berkah dan kebaikan yang saya terima di tahun ini.

Januari sampai Februari adalah waktunya holiday! Thanks to BPKP scholarship jadi saya bisa menikmati liburan di Bali lumayan lama. Dan akhirnya saya sukses nyetir mobil sendiri kemana-mana. Akhir Januari kemarin adalah kali pertama saya ke Nusa Lembongan. Memang harus sering-sering short escape nih!

Maret sampai Juni saya habiskan di kampus untuk menyelesaikan semester kedua. Akhir Juni untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Jepang! One of my favourite momments this year! Duh Jepang itu membekas banget di hati. Pengen segera bisa balik lagi kesana.


Bulan-bulan selanjutnya disibukkan dengan persiapan pernikahan. Persiapan pernikahan yang menyita waktu, pikiran, tenaga, juga biaya. Tapi exciting! Baru tahun lalu curhat kalau semua teman memutuskan menikah, terus tahun ini akhirnya saya yang menikah. Pernikahan membuat 2016 jadi tahun yang paling membahagiakan dan most favourite!


And here I am, remembering 2016 and make resolutions for 2017. So these are things I wish to achieve in 2017:
  • Able to swim (ini entah resolusi dari tahun kapan, mudah-mudahan tercapai di tahun 2017, Om Swaha!)
  • Menyelesaikan kuliah. *dengan skripsi yang berkualitas dan proses yang lancar
  • I wish I can live together with my husband. Udah cukup dengan long distance relationship masa lanjut ke marriage juga.
  • Renovating our small house and turn it into a “home”
  • Traveling abroad (Indonesia juga!)
  • Two books a month (ini juga resolusi udah lama, mudah-mudahan terealisasi)
  • Lebih banyak menulis dan sharing lewat blog, semoga dengan sharing saya bisa lebih bermanfaat bagi orang lain

Semoga tahun 2017 menjadi tahun yang penuh kebaikan dan keberkahan. Semoga saya, keluarga, teman-teman, orang-orang terdekat saya senantiasa dalam lindunganNya, diberikan umur yang panjang, dan rejeki berkecukupan.

Tahun ini saya sedih dan khawatir dengan banyaknya konflik dan perdebatan yang dipicu isu-isu sensitif. Semoga di tahun baru orang-orang semakin bijaksana dan berkepala dingin dalam menanggapi isu, tidak mudah terhasut, tidak mudah membenci dan terprovokasi, tidak keras kepala menutup mata-telinga-hati, dan mau terbuka saling menerima masukan.
Semoga diberikan kedamaian hati, pikiran, damai di dunia.

Happy New Year 2017!



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Sunday, November 27, 2016

#IndraGianWedding Part 1 : Couple Photoshoot


Saya dan Bli Indra itu jarang banget bikin foto berdua. Jangankan yang resmi, yang cuma sekedar selfie berdua aja kami sering kelupaan. Kadang udah diniatin bawa-bawa kamera, eh trus keasikan ngobrol dan lupa. Kebetulan juga kami berdua sama-sama bukan orang yang wajib update foto kegiatan di socmed.

Mempersiapkan pernikahan, saya yang lebih semangat untuk bikin pre wedding photo (saya lebih suka menyebutnya couple photoshoot aja). Demi mewujudkan photoshoot ini saya berusaha mencari referensi sebanyak-banyaknya. Jangan heran kalau dari Januari lalu saya udah browsing through my Instagram dan nanya sana sini. Pokoknya saya semangat berapi-api deh untuk mewujudkan couple photo ini. Makasih banget buat Bli Indra yang seratus persen memberi keleluasaan ke saya untuk menentukan dan memilih semuanya.


Setelah proses meditasi yang panjang dan melelahkan, akhirnya saya pilih konsep : Balinese Classic. Kenapa? Ada dua alasan kenapa saya memilih konsep ini. Pertama, It suits our personality a lot. Kami yang hampir nggak pernah bikin foto berdua, canggung banget kalo harus banyak pose di depan kamera. Jadi saya memilih konsep dimana kami hanya melakukan pose yang simpel tapi bisa jadi sophisticated. Nggak banyak variasi tapi kelihatannya megah dan unik. Kedua, terutama saya, sangat memimpikan bisa melakonkan orang Bali asli dalam sebuah foto. Bisa dibilang ini salah satu impian saya.

Punya konsep, tentu belum menyelesaikan masalah. Masalah selanjutnya adalah menemukan vendor yang tepat. Sepengetahuan saya (dan ini ternyata benar), jarang banget yang mau bikin photoshoot dengan konsep klasik (waktu itu di bulan Mei 2016, dan sekarang malah jadi in trend!). Kebanyakan suka yang glamour dan modern. Jadi referensi yang saya dapat juga terbatas. Sampai suatu ketika nggak sengaja saya ketemu dengan @maxhelar di Instagram.


@maxhelar Photography adalah freelance fotografer pertama yang saya lihat bisa menampilkan konsep Balinese Classic dengan sederhana tapi elegan. Dan setelah bekerjasama, saya puas banget dengan cara dan hasil kerja mereka. Pertama, mereka bisa dan enak banget diajak konsultasi juga memberikan banyak masukan. Kedua, proses photoshoot nya efektif dan efisien, mereka juga sabar menangani kami yang kadang bingung pose dan hilang ekspresi. Ketiga, they meet my expectation! And that means a lot! Mereka bisa mewujudkan konsep yang ada di dalam pikiran saya. @maxhelar lah yang juga membawa saya ketemu @tirta_harum by Arsanajaya MUA.

Seperti sulitnya menemukan fotografer yang memiliki portofolio konsep Balinese Classic, begitu juga dengan MUA. Memilih MUA tanpa pernah coba terlebih dahulu kan sama aja kaya beli kucing dalam karung. Hasil makeup yang terlihat bagus di portofolio Instagram nggak menjamin hasilnya oke secara nyata. Saya benar-benar harus bersyukur karena dipertemukan dengan @tirta_harum by Arsanajaya MUA. Bli Arsana dan team adalah MUA yang biasa mensponsori kontes duta pariwisata di Bali (Teruna Teruni Denpasar, Jegeg Bagus Badung, Jegeg Bagus Bali, dll). Melihat portofolionya, saya yakin kalau Bli Arsana bisa mewujudkan apa yang ada di pikiran saya. Saya sempat khawatir karena kami cuma berhubungan via media sosial. Saya konsultasi dan kirim-kirim konsep foto cuma via chat, bahkan nggak sempat fitting karena kesibukan masing-masing. Surprisingly, saya dibuat terkagum-kagum dengan hasil riasan Bli Arsana. MUA dan WD nya perfect! So as the photographer, they meet my expectation sooo well. Saya nggak berhenti tersenyum ketika bercermin. Yang bikin saya tambah jatuh cinta, Bli Indra yang ogah banget kalo dirias-rias, ternyata merasa nyaman dan bisa enjoy.


Sebelumnya saya sempat sangat khawatir dengan photoshoot ini. Takutnya nggak sesuai ekspektasi dan moodnya langsung buruk. Apalagi Bli Indra sebenarnya nggak terlalu suka dandan dan foto-foto begini. Tapi melihat dia bisa menikmati saya jadi happy. Syukurlah semuanya berjalan lancar dan prosesnya benar-benar menyenangkan.

Terimakasih sebesar-besarnya untuk @maxhelar Photography dan @tirta_harum by Arsanajaya MUA yang sudah mewujudkan pre wedding photo kami. Sudah pasti saya akan merekomendasikan keduanya ke semua orang. Such a great works! 

the squad

PS : konsep photoshoot Balinese Classic kami banyak diinspirasi oleh Mbak @milarosinta dan @andienaisyah. Terimakasih.

Photographer
Maxhelar Photography
Jalan Raya Kedewatan II no. 16, Ubud, Gianyar, Bali
081338307999
Instagram : @maxhelar

Make Up Artist & Wardrobe
Arsanajaya
Jalan Kecubung, Denpasar, Bali
Instagram : @tirta_harum




Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Saturday, November 5, 2016

Love, Life, LDR


My 7 Years Long Distance Relationship,
and still counting...

Banyak yang bilang saya dan Bli Indra ini LDR expert. Gimana nggak, tujuh tahun pacaran, hampir seluruhnya kami jalani dalam long distance. Kalau ditanya nggak enak, pasti iya. Nggak ada istilah malam minggu sama pacar. Yang ada malam minggu sama telepon. Iya sih, pacar yang baik pasti selalu ada (meskipun LDR) , tapi kalau butuh bantuan mendadak, terpaksa menghubungi teman yang ada deket-deket kita dulu kan. Yang jadi pertimbangan lagi, high cost! Tapi ini kalo dikonversi mungkin masih sebanding sih dengan -deketan tapi makan bareng di luar hampir setiap hari.

Selama kami pacaran, banyaaaaaakkkk banget masalah yang muncul. Jangan dipikir hubungan kami baik-baik terus, adem ayem, dan tanpa masalah. Salah besar! Lucunya, kadang masalah yang sama bisa kami alami berulang-ulang. Sampai frustasi, kok gini-gini terus masalahnya. Perasaan kemarin udah sepakat solusinya, eh sekarang kejadian lagi.

Masalah-masalah LDR klasik yang sederhana sih, misalnya manajemen waktu. Pas saya nggak sibuk, eh dia sibuk. Pas dia lagi butuh perhatian, sayanya yang banyak kerjaan. Masalah berikutnya bosan. Jangan bohong deh, yang namanya menjalani hubungan (apalagi udah lama) pasti kadang pernah muncul rasa bosan. Manusiawi kok. Lalu ada lagi masalah komunikasi dan persepsi. Susah banget lho membayangkan ekspresi dan menebak suasana hati lawan bicara (suasana hati kita juga!) kalau ngobrol via telepon. Jangan kaget kalau sering muncul salah paham. Karena nggak ketemu langsung, kadang kami suka salah nebak maksud masing-masing, trus war deh.

Tapi syukurlah kami lebih suka fokus ke keuntungan menjalani hubungan LDR. Pertama, kami lumayan gampang mendapat me time. Kalau saya sih nggak suka sama istilah "pacaran serasa dunia milik berdua". Saya masih tetap ingin punya waktu sendiri untuk menjalani hobi atau main bareng teman-teman. Saya rasa Bli Indra juga begitu. Selain dia memang memberi saya kebebasan asal bertanggungjawab, LDR malah bikin saya enjoy. Kedua, karena LDR kami jadi lebih menghargai waktu dan kebersamaan. Terakhir, LDR lebih mendewasakan saya dalam hubungan, mengajarkan saya untuk lebih mendengar, sabar, dan lebih peduli!

Lucu banget kalau mengingat awal-awal pacaran yang full of mess banget. Hampir setiap minggu kami bertengkar untuk hal-hal yang sepele. But we did it!

Akhirnya menjawab pertanyaan-pertanyaan, "Masih pacaran?", "Kok tahan sih?", "Cicilan belum lunas?", sampai ke pertanyaan yang agak kurang ajar "Buat apa pacaran (punya pacar) tapi jauh nggak bisa ada kalau kita butuh?"

Semua balik lagi ke pilihan sih ya. Dan saya pribadi nyaman, dan memilih berkomitmen menjalani ini. Kalau ada yang nanya tipsnya apa, mungkin beberapa hal ini wajib jadi perhatian kalau kalian sedang menjalani LDR.

·   TRUST. Menjalani LDR sangat sangat butuh kepercayaan. Nggak usah deh mengkhawatirkan hal-hal yang sebenarnya mungkin nggak pernah terjadi. Percaya dan juga menjaga kepercaan pasangan kita.
·    FREEDOM. I have and live my own life and so do he. Tapi kebebasan disini maksudnya yang bertanggungjawab. Pacaran, apalagi LDR jangan sekali-sekali deh merasa memiliki dan mengatur semua hidup pasanganmu. Just enjoy! Hubungan yang baik itu bukan saling mengekang, tapi saling menguatkan dan memotivasi.
·    NO CLUES, TALK DIRECTLYNah, yang ini kayaknya udah sering banget dibahas di berbagai forum. Terutama cewek-cewek, jangan suka kasi kode atau mancing. Sampaikan saja maksud kita dengan jelas dan terus terang. Meskipun awalnya susah, tapi we have to try.
·     TIME MANAGEMENT. Ini pelajaran paling susah buat saya. Awal-awal LDR, saya masih suka egois dan kurang menghargai waktu. Berusahalah saling menyediakan waktu untuk sekedar menanyakan kabar, menceritakan hal-hal yang sangat biasa, atau update kegiatan. Karena seberapapun kecilnya hal yang kamu alami, pasangan pasti selalu ingin dan berharap untuk tahu.

Mudah-mudahan bisa memberikan sedikit gambaran, syukur-syukur bisa memotivasi para pejuang LDR. LDR bukan malapetaka kok. Dan mohon doanya karena memasuki tahun kedelapan, we're going to marry!

MUA & WD : @tirta_harum
Photographer : @maxhelar




Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Thursday, May 12, 2016

Chasing Perfection


Perfection is addictive.
I’ve been chasing it all of my life. I won’t admit that sometimes I’m tired. You may see me strong but I sigh a lot. Perhaps, you know me cheerful but I worry the most.

Ketika saya temui seseorang yang stands out dalam suatu lingkungan, saya sangat ingin menjadi sepertinya. Bukan apa-apa, jalan hidup saya bisa dibilang baik-baik saja kok, bahkan sangat baik. Keluarga yang penuh cinta, pencapaian yang baik di sekolah, kehidupan cinta yang mulus. Saya juga punya beberapa sahabat baik.
Saya adalah orang dengan optimisme yang sangat tinggi. Saya yakin semua hal dapat berjalan sesuai apa yang saya rencanakan. Saya yakin akan mendapatkan yang terbaik versi saya.

Chasing perfection bukanlah nggak bersyukur.
Saya bersyukur atas hidup saya. Terlebih karena ibu saya selalu mewanti-wanti saya untuk itu. Kedua orang tua saya adalah gambaran bagaimana saya seharusnya mensyukuri hidup yang saya jalani. Tidak ada satu alasan pun untuk tidak bersyukur atas segala yang saya punya dan telah saya peroleh.

Tetapi saya tentu saja punya ego. I believe that I could be the best, and do more. Ada keyakinan dalam diri saya bahwa saya bisa melakukan apa yang orang lain lakukan. Dan saya akan berusaha melakukannya dengan lebih baik.

Saya terbiasa mendapat apa yang saya targetkan, sehingga saya sangat takut gagal.
“Kamu hampir nggak pernah mengalami kegagalan ya? Pantesan hal-hal kecil gini aja kamu pikirin banget.” Someone said this and he keep reminds me about flaws in our life.

Iya, saya jarang, bahkan hampir nggak pernah mengalami kegagalan besar. Sekali yang paling saya ingat adalah ketika saya gagal diterima di Fakultas Kedokteran lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Sedikitnya pengalaman gagal ternyata banyak mempengaruhi karakter saya. Saya cenderung nggak tahan kritik, dan sifat terlalu optimis membawa saya pada banyak kekecewaan. Mood saya akan sangat jelek ketika apa yang saya rencanakan tidak berjalan dengan semestinya.

Optimism is good, but It could make you suffer too.

Lambat laun saya semakin bisa menerima bahwa memang ada hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan. Tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan saya. Terlebih saya belajar menerima bahwa saya bukanlah tokoh manusia super dengan kemampuan bisa melakukan semua hal tanpa cela. Tapi tunggu, bahkan manusia superpun nggak cemerlang di semua bidang kan.

One day I’m facing failure. Later I realize that It makes me try twice harder, go further, and push me to be better that I’ve ever be.

About chasing perfection? I will and always will be doing it.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Friday, April 1, 2016

To Accept

Have you ever come to a point where all the things you do is not working? What you believe you can do is ended up with mess. The harder you try the worse you get. Everything is confusing. You think you're stressed out, then you take everything you believe can cure it. Take an extra sleep, buy ice cream (s), have a long long break and not doing anything. Does It end? I don't think so.

I am. I am at a point that everything I wanna achieve just came out. Everything I'm trying to do ended up with failure. I am not at my best. Maybe I just don't give my best. Yet.

You now tell me about take my time?
I did slept, watched movies, had ice cream, pampered myself, ate, took a break, but nothing went better.

When I come at this point, perhaps the only thing I should do is to accept. Acceptance includes letting myself do wrong, knowing that I'm far from perfection, understanding that I can't do everything flawlessly. Well, It's easy to tell, but so hard to do.

Just believe that nothing last too long. Desperation sometimes hits you, then you only have to make fun of It.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Wednesday, March 16, 2016

Everybody is Changing


Semua orang akan sangat menghindari situasi dimana namanya disebut melalui announcer mall atau bandara. Persis seperti yang baru saja saya alami.

Menggunakan maskapai yang terkenal dengan track record nya yang hampir 90% delayed membuat saya cukup berleha-leha dalam perjalanan menuju bandara. Sudah web check in  juga sih, jadi saya pikir aman. Saya sampai tepat tiga puluh menit sebelum take off yang artinya waktu boarding. Tapi yang saya dapati bukan panggilan boarding, tapi panggilan terakhir untuk penumpang yang belum naik pesawat.

Kaget dong! Setelah cek ke check in counter (untungnya masih boleh ambil boarding pass karena bodohnya saya nggak simpen boarding pass online), saya langsung lari ke gate. Nah, pas momen lari itu lah nama saya disebut via announcer bandara.

Bukan cuma saya yang mengalami hal ini. Di dalam bus feeder saya lihat kurang lebih sepuluh orang juga menjadi last minute boarding passengers. Agak lucu sih maskapai ini. Setelah rekor delay yang belum terpecahkan, sekarang boarding lebih cepat dari jadwal. Okay I admit that I was wrong. I was underestimating by coming right 30 minutes before take off which is the boarding time written in the boarding pass.

My point is, I saw that everybody’s changing to be betterSo would you still stay on your track although It brings you nowhere?


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Friday, January 1, 2016

Happy New Year 2016!


Nggak terasa tahun 2015 sudah terlewati. Tahun yang penuh berkah dan membahagiakan bagi saya. Terimakasih Tuhan Hyang Widhi karena sudah memberikan kesehatan dan begitu banyak hal-hal baik. Tahun 2015 rasanya agak kebut-kebutan, cepet banget!

Saya bersyukur karena my very first resolution tercapai. Ya, saya akhirnya bisa kembali melanjutkan kuliah yang adalah cita-cita saya sejak lama.

Bulan Januari sampai April saya habiskan dengan mengunjungi Medan, Bali, Semarang, dan Palembang untuk urusan pekerjaan. Nggak hanya kerja dong, mampir juga ke tempat wisatanya adalah wajib!

Juni is the best! Saya dan "teman-teman gemar menari" didaulat untuk mewakili kantor mengikuti kompetisi tari ICCA (Indonesian Contact Centre Association), and we won the gold medal. It's not about winning, it's the momment we've shared and everything we went through. I really hope we can do it again together very soon!


Waktu setelahnya banyak saya habiskan untuk mempersiapkan ujian masuk kuliah, sekali escape ke Bandung, dan dimulainya bulan-bulan perkuliahan.

Nggak jauh beda dengan tahun sebelumnya, tahun 2015 juga penuh dengan kabar pernikahan. Jadi saya ingin mengucapkan selamat kepada teman-teman yang mengambil keputusan untuk mengakhiri masa lajang dan memasuki jenjang berikutnya dalam hidup.

Dan harapan saya di tahun 2016 :
1.         Bisa berenang
2.         Menyelesaikan dua semester ke depan dengan gemilang
3.         Two (additional) books per month
4.         Rajin menulis dan sharing di blog
5.         Travelling often

Semoga di tahun 2016 hal-hal baik datang dari segala penjuru. Semoga orang-orang dipenuhi rasa kasih sayang dan diberikan kesadaran penuh untuk berhenti merusak alam dan lingkungan, menggadaikan rasa kemanusiaan, dan hal lain yang hanya akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Happy New Year 2016!


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Saturday, December 12, 2015

Weekend Gateaway #2 : Tjikini Sedap Rasa Sagala


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api,
Yang menjadikannya abu.

Aku Ingin
Sapardi Djoko Damono

Saya tersenyum ketika membaca bait puisi yang tertera pada menu di kedai itu. Sore menjelang malam, akhirnya saya dan teman-teman mampir di Tjikini Sedap Rasa Sagala (orang-orang suka menyebutnya Tjikini Cafe / Kedai Tjikini / Tjikini 17). Kedai ini terletak di Jalan Cikini 17, pada deretan cafe-cafe bergaya vintage . Malam itu malam minggu, kami memutuskan untuk mendapatkan quality time kami di kedai yang bangunannya membawa saya kembali ke masa-masa konolialisme. Saya sebut kedai karena interiornya sederhana, tapi sukses menimbulkan kesan nyaman.


Kenapa Tjikini Sedap Rasa Sagala?
Tjikini bisa menyediakan hampir semua syarat yang diajukan ketika kita ingin memilih tempat hangout. Adalah tempat bagi mereka yang suka kesendirian sambil menikmati suasana kedai vintage yang nyaman, tempat bagi mereka para pencinta kopi, tempat para sahabat yang menghabiskan waktu menceritakan nostalgia sambil ngemil jajanan tradisional, sampai menjadi tempat para eksekutif muda melepas suntuk dengan berbagi lelucon selepas jam kantor.

The foods and beverages are...
Tjikini menyediakan mulai dari kopi dari berbagai daerah, teh, sampai minuman tradisional seperti wedang jahe dan kunyit asem. Untuk makanan seluruhnya adalah makanan khas Indonesia, beserta kudapan-kudapan yang rasanya cukup enak.  

Must bring items...
Notebook to write your stories, book and ipod when you want to make a little peace in mind, and camera! to take some pics.

Will go back?
YES!


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Sunday, December 6, 2015

Weekend Gateaway #1 : How Far Can You Go?


Bicara tentang bepergian, secara umum ada dua tipe orang. Pertama, yang pergi dulu baru memikirkan rencananya bagaimana dan apa yang mau dikerjakan, dan kedua , yang perlu waktu lama untuk menyusun rencana sebelum memutuskan untuk pergi.

Saya adalah tipe orang kedua. Meskipun suka mengikrarkan diri sebagai orang yang spontan, tapi kenyataan jauh berbeda dengan ekspektasi. Bepergian, berlibur, adalah hal yang akan saya persiapkan dari jauh-jauh hari. Butuh alasan yang sangat kuat bagi saya untuk memutuskan pergi. Bepergian tanpa rencana yang matang? Hampir bisa dipastikan saya akan batal berangkat.

Hal yang nggak biasa terjadi dua weekend yang lalu. Saya membuat keputusan tanpa berpikir rumit berhari-hari seperti biasanya untuk pergi ke Bandung lalu ke Jakarta. I repeatedly told myself, “I have to do this!” Dari Surakarta saya menempuh hampir enam jam sebelum akhirnya sampai di Bandung saat matahari sudah terbenam. Waktu perjalanan yang cukup lama mengingat besok paginya saya sudah harus kembali lagi ke Jakarta. Ngapain semalam saja di Bandung?

Ini kali pertama setelah sekian lama saya mengambil keputusan tanpa berpikir terlalu ribet. Ketika ditanya kenapa, saya nggak bisa mencari-cari alasan penting agar semua ini masuk akal. Saya hanya bilang “because I wanted to! And there were friends that miss me and I wanted to meet them so bad”. “For the sake of my happiness”. Percaya atau nggak rasanya menyenangkan. Sekali-kali bukanlah ide yang buruk untuk melakukan sesuatu tanpa berpikir rumit dan merencanakan terlalu banyak.


Minggu pagi kami habiskan dengan brunch di Two Hands Fvll coffee, sebuah breakfast-cafe and coffee shop yang cukup populer di Bandung. Buka dari jam 07.00 - 20.00, tempat ini menawarkan konsep yang warm and homey. Berlokasi di Jalan Sukajadi 198A Bandung, sedikit susah menemukan tempat ini karena selain menurut saya dari luar tampilannya kurang tampak seperti coffee shop juga tertutupi oleh kendaraan-kendaraan yang terparkir di depannya.


How're the foods? B.O.C #breakfastofchampion, Dong Ding Tea, a slice of Oreo Layer Cake, overall they're good! Berhubung ada sebagian makanan yang menggunakan bacon, just in case yang dalam kepercayaanmu haram, sebelumnya kamu bisa request untuk menggantinya dengan yang halal.

Tentu saya akan merekomendasikan Two Hands Fvll Coffee sebagai salah satu tempat brunch yang wajib didatangi. Terutama untuk orang-orang seperti saya yang selama ini susah banget mencari tempat breakfast yang enak dan nyaman sekalian menghabiskan waktu di pagi hari. Selain Foods and Beverages yang enak, tempat ini memberikan kesan homey yang bikin saya betah berlama-lama disana. Setiap sudutnya juga menarik bagi kamu yang hobi food-photography atau selfie(?). Tempat ini bisa jadi salah satu alternatif untuk meeting, reuni, mencari inspirasi untuk tugas-tugas yang menumpuk (wifi available!), atau sekadar mengobrol santai bersama sahabat. Harganya? Reasonable, IDR 50.000 - 100.000 per person.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Sunday, November 29, 2015

Happy Wedding Zein & Dania!

Finally, one of my very best friend was getting married (28.11.2015). Then I decide to wrote him a letter.

I still remember how you told me about would not marry until 30. How your perspective about marriage, about getting child without marry (yes, you mean adoption!). You love cute child but you didn't like the idea about making commitment in marriage. How you're very passionate about your plans, your carier, and your argument that marriage could only become an obstacle of your success.

How funny,
Then you met her. Suddenly what had been in your mind turned over. You started to count her as your future. You thought about having plan together with her. Reach your dream with her by your side. Live together, raise children. Then you know she's the only one that would makes your life complete. Either good or bad, both of you would walk the path, together.
Love is magical, isn't it?

I'm very happy for you both.
Marriage is not only the world of you two. It's not only about happily living together.
It's bulding a bridge between each other family. It's connecting two very different cultures. It's about seeing your wife's/husband's face everyday and are not getting bored. It's accepting your partner's in his/her worst. It's facing problems together and are not being hopeless.
Marriage is not an obstacle. It should lift up each other's quality of life. It strengthens each other. It never cuts each other's wings, on the contrary It supposed to makes you fly higher.

Happy Married Life for you two,
we hope many happiness find you in every corner of the world as you begin your new life together.


PS : Many thanks to PopYourHeart for making our gift memorable.



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+