HOME      ABOUT      CONTACT      INSTAGRAM

Sunday, March 25, 2018

X2 Sanso Color SoftLens Review


Hello,
Kali ini saya mau mereview produk yang nggak biasa saya pakai. Sebulan lalu saya menerima paket dari X2 softlens yang isinya dua pasang lensa kontak (softlens) dan cairan pembersih. Sejujurnya saya agak ragu-ragu juga gimana mereview softlens padahal sekalipun saya belum pernah pakai, bahkan pasang sendiripun kayaknya nggak bisa. Duh!

Banyak banget ketakutan saya akan softlens yang bikin saya nggak pernah mencoba memakainya. Terutama sih karena ulasan-ulasan yang menyebutkan bahwa memakai softlens dapat merusak mata. Terus ada juga yang sampai mengalami kebutaan. Padahal terus terang saya tertarik mencoba softlens karena menurut saya memakai softlens, terutama yang memiliki pigmen warna, instantly improve our appearance. Terlebih lagi, memakai softlens membuat makeup lebih terlihat menonjol.

Ketika mencoba softens dari X2 softlens, saya membuat riset kecil-kecilan dulu. Membaca keterangan produk berkali-kali sebagaimana saya juga mengulang-ulang membaca instruksi pemakaian/penyimpanan di kemasan. Setelah saya yakin, barulah saya mencoba salah satu varian dari X2 softlend yaitu X2 sanso color pattern Cappucino.

X2 softlens sendiri diproduksi dengan sistem multy-layer polymerization sehingga warna tidak pudar dan aman bagi mata. Material softlens X2 sesuai dengan standarisasi Internasional FDA, KFDA, ISO, CE approved. Nah, kalau X2 sanso color terbuat dari material hubrid silicone hydrogel yang mampu menghantarkan oxygen 80%. Karenanya, kita nggak perlu khawatir menggunakan softlens ini. Meskipun digunakan secara rutin, asal kita tahu cara perawatannya mata kita akan tetap sehat. Care instructions secara jelas dituliskan di setiap kemasan X2 sotlens.

Untuk harga, mungkin banyak softlens-softlens lain yang lebih murah. Tapi hati-hati, jangan-jangan softlens yang dijual murah malah KW. Meskipun patternnya nyaris sama, tapi kalau KW ya kualitas produk beda jauh. Bahan yang digunakan bukanlah silicone hydrogel, jadi nggak menjamin dapat membuat mata tetap sehat.


Percaya nggak kalau sebelum saya pasang sendiri softlens ini, saya sampai nonton tutorial di youtube saking parnonya pasang softlens. Syukurlah akhirnya berhasil dalam waktu yang singkat, nggak pakai drama, dan wow! When looking at the mirror, I feel like a different person staring at me. Softlens benar-benar memberi tambahan karakter pada wajah seseorang.

Pattern Cappucino saya pilih sebetulnya karena menginginkan warna cokelat pekat. Eh ternyata setelah saya pakai malah agak light ya. Tapi tetap bagus, dan syukurlah saya nggak merasakan sesuatu yang aneh atau menyakitkan pas pakai X2 softlens. Pemakaiannya sangat nyaman dan setelahnya pun nggak membuat mata menjadi merah. Tapi sekali lagi saya tekankan, baca baik-baik saran pemakaian dan penyimpanan ya, terutama bagi yang jarang-jarang pakai softlens kayak saya.

Well, kalau ada tips atau saran terkait softlens boleh dong dishare di kolom komentar.

*sponsored post



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Sunday, February 4, 2018

SK II Facial Treatment Essence Review


Setelah sekian lama penasaran dengan esens yang jadi holy grail kebanyakan beauty enthusiast ini, akhirnya saya memberanikan diri mencoba si fenomenal SK II Facial Treatment Essence (FTE). Sejujurnya saya sangat takut dan ragu ketika pertama kali mencoba Pitera esens. Gimana nggak takut, banyak review menyebutkan kalau SK II FTE bikin purging yang nggak tanggung-tanggung, jerawatan semuka, kulit gosong, dan masih banyak lagi efek purging yang bikin maju mundur cobain produk ini. Tapi berbekal keyakinan kalau kulit saya udah bebas dari perawatan dokter, sayapun mencoba menambahkan Pitera esens ke dalam skincare routine saya.

Pertama kali coba, ada sensasi cekit-cekit yang cenderung tidak nyaman. Saya nggak tahu apa semua orang merasakan hal ini ketika pertama kali menggunakan SK II FTE. Rasanya kayak gatal pas diolesin peeling. Memang nggak parah sampai ingin garuk-garuk, tapi saya rasakan sensasi ini berlangsung cukup lama. Tapi ini hanya saya rasakan saat pemakaian pertama, selanjutnya udah nggak lagi.

Saya menggunakan SK II FTE pagi dan malam hari setelah menggunakan toner. Awalnya saya aplikasikan menggunakan kapas, tapi kok nggak puas. Jadi saya menuangkan esens di telapak tangan kemudian saya tepuk-tepuk lembut di seluruh wajah. Cara ini lebih enak sih kalau menurut saya. Cukup 2-3 tetes biar nggak boros. Satu botol SK II FTE berukuran 75 ml kira-kira bisa saya gunakan selama 5 bulan. Cukup hemat kan!


SK II FTE mengandung lebih dari 90% Pitera. Saya kutip dari official website SK II Indonesia, Pitera adalah Bahan bio-alami yang mengandung lebih dari 50 nutrisi mikro. Pitera membantu mengkondisikan fungsi alami kulit dan menutrisinya dengan pelembab alami untuk membantu kulit terhidrasi, terasa lembut dan tampak bercahaya alami. Dengan pemakaian rutin sesuai petunjuk pemakaian, kulit terbantu tampak cantik sebening Kristal.
Setelah menghabiskan 1 botol (sekarang botol kedua), saya ingin sharing tentang apa yang saya rasakan terkait klaim produk ini.

Kulit sebening kristal setelah pemakaian satu botol

Not literally sebening kristal, saya belum merasakan kalau kulit saya jadi bening seperti para brand ambassador di iklan SK II FTE. Kalau yang dimaksud tampilan kulit jadi lebih bening dalam artian putih merata dan bersinar, saya rasa nggak, atau mungkin belum. Tapi saya senang SK II FTE membuat warna kulit saya merata dan terlihat sehat.

Pitera akan membantu mengkondisikan fungsi alami kulit

Mungkin ini sebabnya banyak orang yang masih memakai rangkaian perawatan dokter kulit mengalami purging. Syukurlah saya nggak perlu mengalami masa-masa jerawatan atau kulit gosong saat awal pemakaian. Saya memang merasa kulit saya cenderung balik ke kondisi alaminya sebelum mengenal krim racikan. Hal ini saya sadari waktu saya belajar berenang. Hampir setiap hari di kolam renang dengan air yang tahu sendiri lah bikin kulit nggak bagus, kulit saya tetap bertahan dan nggak muncul masalah.

Membantu masalah kulit kusam dan kering

Sejak kembali bekerja, kulit saya menjadi cenderung kering karena dari pagi sampai sore ada di ruangan berAC. Dari yang saya rasakan, SK II FTE tidak terlalu membantu karena kulit saya tetap kering dan kadang-kadang mengelupas di bagian hidung. Padahal belakangan ini saya memakainya 2 sampai 3 step.  Namun untuk kulit kusam saya rasa sesuai dengan klaimnya kalau SK II FTE dapat membantu membuat tampilan kulit lebih cerah. Sekali lagi bukan cerah dalam artian putih ya, tapi lebih ke tampilan kulit sehat.

SK II Facial Treatment Essence membuat kulit kenyal dan awet muda

Saya sangat setuju dengan klaim produk yang mengatakan esens ini membuat kulit lebih kenyal. Saya puas banget dengan tekstur kulit saya sekarang. Nah, untuk awet muda, sepertinya kita harus tunggu beberapa tahun lagi tentunya dengan pemakaian teratur.

Overall, saya suka dengan produk ini dan berniat untuk terus menggunakannya. Tapi saya nggak bohong kalau saya berpikir juga untuk cari esens lain karena sekarang sudah banyak bermunculan esens yang nggak kalah oke dengan harga yang lebih affordable.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Tuesday, December 12, 2017

Planning for Pregnancy


Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya beberapa minggu lalu saya memutuskan untuk menemui dokter spesialis kandungan.

Bulan lalu tepat setahun saya menikah. Tanpa ada rencana menunda, sampai hari ini saya belum juga dipercaya Tuhan untuk hamil. Memang sih, 6 bulan pertama menikah saya masih berkeinginan fokus menyelesaikan kuliah. Tapi ternyata hamilnya tertunda sampai hari ini.

Meskipun sering tertekan dengan pertanyaan “udah isi belum?”, tapi saya bersyukur punya mertua yang pengertian. Tahu saya stres menghadapi pertanyaan seputar kehamilan, mertua saya belakangan ini udah jarang ngomongin cucu di depan saya. Paling pesannya cuma “makan yang banyak”. Ditanyain melulu kok belum hamil bikin saya kesel dan stres. Apalagi kalau ada yang banding-bandingin. “Si A belakangan nikah udah hamil tuh, kamu kok belum?”.  Serius deh, pertanyaan macam ini nyebelin banget dan nggak sopan. Meskipun niatnya cari topik pembicaraan atau basa-basi, saya sarankan lebih baik nanya yang lain aja. 

Balik lagi ke pemeriksaan kandungan.
Jadi, saya dan Bli Indra sudah sepakat kalau sampai setahun saya belum berhasil hamil, kami akan konsultasi ke dokter spesialis kandungan. Pemeriksaan yang saya jalani ini juga sebenarnya nggak direncanain banget. Berawal dari beberapa minggu setelah selesai menstruasi saya malah berdarah. Browsing sana sini, saya jadi ngarep kalau ini adalah darah akibat pelekatan sel telur yang berhasil dibuahi. Darah yang keluar memang nggak banyak, cuma 3 hari, itupun sedikit banget. Pokoknya persis deh seperti deskripsi darah pelekatan yang ditulis di blog-blog seputar kehamilan. Nah, memasuki  hari telat menstruasi ke-10 , saya coba test-pack. Hasilnya negatif. Sayapun kemudian memutuskan periksa aja sambil berharap hasil test-pack nya salah.

Saya memilih konsultasi ke dr. Alesia Novita, Sp.OG. karena sempat ditulis di salah satu blog yang nggak sengaja saya kunjungi waktu baca-baca soal kehamilan. dr. Alesia praktik di RSIA Buna Aliyah (rating di Google 5 stars lho!), RSIA yang nggak terlalu besar tapi ramainya kayak pasar. Saya datang sari jam 9 pagi baru dipanggil untuk periksa jam 12.30 siang. Duh!

Jujur saya takut banget dengan pemeriksaan ini. Takut rahim nggak normal, takut kista, takut macam-macam. Pas masuk, dr. Alesia langsung menyapa saya dengan ramah. Saya udah niat mau curhat segala macam biar nggak galau-galau lagi mempersiapkan kehamilan. Nggak bertele-tele, sayapun langsung di transvaginal USG untuk mengetahui apa yang terjadi di rahim saya.

Iya, hasilnya memang saya belum hamil.
dr. Alesia bilang dinding rahim saya udah tebel banget, harusnya udah masuk masa menstruasi. Kenapa belum, karena sel telur saya ukurannya kecil jadi nggak ada sel telur yang lepas (bagian ini saya belum paham betul korelasinya). Dokter juga bilang rahim saya menghadap ke dalam. Itu aja.
Sisanya syukurlah normal.

Saya lega banget dengernya. Jadi nggak ada masalah dengan rahim saya, hanya harus minum tambahan vitamin untuk memperbaiki kualitas sel telur. dr. Alesia juga meminta bli Indra untuk sekalian periksa. Ya, bisa dibilang kami akan mulai program untuk memiliki anak. Doakan ya, mudah-mudahan segera.

Nggak menyia-nyiakan kesempatan, saya juga sekalian tanya tentang pantangan makanan dan olahraga. Intinya, boleh makan apa aja asal sudah dimasak sampai matang, termasuk lemon. Minum lemon bikin kandungan kering? Mitos. Olahraga gimana? Saya kan biasanya jogging 2-3 km tiap minggu, apa dapat mengganggu rencana kehamilan? Kata dokter malah harus olahraga 3 kali sehari dalam waktu 45 menit. Yeay! Happy banget, ternyata selama ini saya lebay suka menahan-nahan diri beraktivitas takut gagal hamil. Padahal kan hamil itu bukan penyakit atau keterbatasan. Jadi mulai sekarang saya nggak akan ragu-ragu lagi beraktivitas yang bikin saya lebih bahagia. Bersiap hamil bukan berarti menghentikan rutinitas positif dong.



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+