HOME      ABOUT      CONTACT      INSTAGRAM

Tuesday, August 30, 2016

Wardah Co[l]ordination Beauty Class X Bali Beauty Blogger


Sabtu, 27 Agustus 2016 kemarin saya dan teman-teman @balibeautyblogger diundang ke acara beauty class and sharing oleh Wardah Bali. Selain kami, ada teman-teman hijabers Bali juga. Bertempat di Gosha Kitchen and Pattisserie Renon, pagi-pagi kami udah produktif dan bersemangat untuk sharing tentang beauty and makeup bersama Wardah.

Saya rasa hampir semua yang baca tulisan ini udah kenal Wardah. Wardah ini adalah salah satu brand kosmetik Indonesia yang mulai banyak diminati konsumen dan para beauty enthusiast. Mengedepankan bahan yang aman, murni, dan halal, Wardah berharap para konsumennya dapat memiliki kulit yang sehat, bersih, dan tetap aman.
Yang membuat saya tertarik adalah Wardah selalu membuat inovasi. Nggak mau ketinggalan dengan produk kosmetik impor, Wardah terus berupaya menghadirkan skincare dan makeup yang in trend, but also suitable for Asian women. Keseriusan Wardah di bidang beauty and makeup terbukti dengan menjadi official makeup and hairdo Indonesian Fashion Week 2016.


Hari itu kami mencoba re-create salah satu look yang diciptakan Wardah saat menjadi sponsor IFW 2016. Dengan tema Wardah Co[l]ordination , Wardah menciptakan lima looks yang terinspirasi dari lima elemen alam yaitu GLOW, STONE, FLAME, SKY, AND FLOW. Look yang kami coba, SKY, menunjukkan ketenangan elemen udara. Ternyata keindahan alam yang menjadi inspirasi adalah kesan misterius dari Kawah Putih Ciwidey. Riasan mata dititikberatkan pada eyeliner putih dengan sentuhan electric light blue (di sini menggunakan eyeshadow).

hasil re-create SKY makeup look 

Saya jarang banget nyoba makeup look yang playful. Awalnya ragu-ragu, tapi setelah selesai re-create SKY lucu juga. Mengaplikasikan eyeliner putih dan eyeshadow birunya agak tricky memang ya untuk mata saya yang monolid.

Thanksss a lot Wardah Bali udah mengundang kami. Nggak membiarkan kami pulang dengan tangan kosong, Wardah juga menyiapkan goodiebag yang isinya Wardah BB Cream dan lipstick yang sedang jadi bahan perbincangan, Wardah Intense Matte Lipstick! Thanks once again!

@balibeautybloggerXhijabersBali squad
with Wardah Bali team
goodie bag from Wardah




Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Tuesday, August 23, 2016

#20MIRACLE Unveil Your Masterpiece


In their 20th year, Miracle Aesthetic Clinic shooted out their new campaign #20Miracle, “Unveil your Masterpiece”. This campaign is based on their believe, that each person has their best potention, either beauty in appearance or talent and good attitude.

Minggu lalu, saya dan teman-teman @balibeautyblogger mendapat kesempatan menghadiri Press Conference Miracle Aesthetic Clinic yang bertempat di Miracle Aesthetic Clinic Bali, Jalan Letda Tantular 47A Renon, Denpasar. Mengusung tema baru di tahunnya yang ke-20, “Unveil Your Masterpiece”, Miracle ingin menginspirasi sekaligus mengajak setiap individu untuk menemukan dan menampilkan versi terbaik (masterpiece) dalam dirinya masing-masing, melalui sentuhan-sentuhan keajaiban bagi tiap individu sebagai sebuah karya seni terbaik. Melalui campaign ini, Miracle juga ingin menginspirasi generasi Indonesia untuk terus upaya menemukan seluruh potensi dirinya dan dengan berani serta penuh percaya diri menampilkannya dalam karya dan kiprah yang mengharumkan nama Indonesia.

Dalam campaign “Unveil Your Masterpiece” ini, Miracle berkolaborasi dengan Angkie Yudistia, Founder & CEO Thisable Enterprise. “Angkie merupakan sosok yang inspiratif dan sangat sesuai dengan campaign yang diusung Miracle. Angkie yang memiliki keterbatasan (dia adalah seorang tuna rungu) berhasil menampilkan the best version of herself menjadi sebuah masterpiece”, ungkap Upik Rupiah, Clinic Manager Miracle Denpasar. Kisah inspiratif ini diwujudkan dalam sebuah short movie kolaborasi Miracle dengan Angkie.

my excited face vs Felice's pretty face

Hari itu Miracle Denpasar juga mengundang Felice Hwang, Puteri Indonesia Lingkungan Hidup 2016, untuk sharing pengalamannya tentang unveiling her masterpiece. Felice yang terlihat selalu tampil prima ternyata tidak mendapat semua itu secara instan. Ada banyak “struggling momment” juga. Dia bercerita kalau sebelumnya dia adalah pribadi yang tertutup dan tidak percaya diri, sebelum akhirnya dia menchallenge dirinya untuk bisa mengeluarkan sisi terbaiknya. “Yang tahu dan mengenal diri kamu adalah kamu sendiri”, ungkapnya. Dan bam!!! She did it! She said that If we’re feeling positive about the process, the best result will following. I’t’s very inspiring to see Felice who are beautiful, smart, and humble sharing her experience in finding the best version of her.

Puncak perayaan #20MIRACLE akan dilaksanakan keesokan harinya oleh Miracle Clinic Bali dengan tema serupa yaitu "Unveil Your Masterpiece Through Fit, Fun, and Beauty" di Lippo Mall Kuta. Akan ada konsultasi gratis oleh dokter Miracle Clinic Bali dan juga zumba (bersama Felice Hwang)!!! Saya suka banget zumba, tapi sayang banget hari itu nggak bisa hadir. 

Perjalanan Miracle Aesthetic Clinic dimulai sejak tahun 1996. Miracle memiliki filosofi “The Art Behind the Science of Aesthetic” yaitu menggabungkan cream program, perawaran medis oleh dokter profesional, dan perawatan estetik oleh beauty therapist berpengalaman. Apa yang membuat Miracle berbeda dan begitu percaya diri sebagai klinin estetika terdepan di Indonesia? “Miracle mengedepankan proses yang higienis. Selain itu,  Miracle selalu berinovasi, dengan mengkombinasikan treatment dengan seni dan ilmu pengetahuan membuat Miracle bisa memberikan yang terbaik”, ungkap dr. Dewi, salah satu dokter di Miracle Clinic Denpasar. Miracle akan memperhatikan kebutuhan masing-masing orang, yang tentu akan berbeda-beda.


Dengan 3 T, Terdepan, Terpercaya, Trendsetter, Miracle yakin dapat menjadi pionir klinik estetika di Indonesia.

@balibeautyblogger




Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Tuesday, August 9, 2016

Until Our Next Hello, Japan! #GianinJapan Travel Diary Part 3


Hari ketiga (3/7/2016), kami berencana bangun lebih awal untuk bisa menikmati Arashiyama Bamboo Path yang sepi. Kami kan travellers yang “selow” banget, nggak pernah kejar-kejaran sama matahari, dan biasanya ngurus rumah dulu sebelum pergi main. Jadi hari ini kami semangat bangun lebih pagi. Apartemen lumayan dekat dengan Arashiyama Park (Bamboo path termasuk juga di kawasan itu), cukup dengan 30 menit berjalan kaki (kurang lebih 3 km), sudah termasuk ngaso ngambil foto Katsura River dan jalanan Arashiyama yang cantik. Kalau mau sewa sepeda juga boleh, harganya sekitar 700 yen kalau nggak salah.

Arashiyama Bamboo Path



Arashiyama Bamboo Path juga icon Kyoto yang populer dan wajib didatangi. Kita bisa berjalan menyusuri hutan bambu yang cantik sambil mendengar sayup-sayup suara burung. Calming! 
Tempat ini sebenarnya mengingatkan saya pada bamboo forest di Desa Tradisional Penglipuran, dekat rumah saya. Cuma bedanya, di Penglipuran bamboo forestnya kurang dikelola dengan baik. Coba dibikin bamboo path mungkin akan sama cantiknya ya!


Keluar dari hutan bambu, kami berjalan berkeliling melihat rumah-rumah dengan desain yang masih tradisional. Ada beberapa ryokan, tapi saya kok nggak menemukan pemandian umum ya. Mungkin saya nyarinya memang kurang niat :).
  

Yasaka Shrine



Berangkat pagi membuat kami punya banyak waktu untuk jalan-jalan. Tetep setelah masak makan siang dan istirahat kami memutuskan mengunjungi kuil lain di daerah Gion yaitu Yasaka Shrine. Masih dengan bus andalan, bus nomor 3, kami menuju downtown menjelang sore. Gion dan Yasaka Shrine letaknya kira-kira hanya 2 km dari Shijo Kawaramachi.


Yasaka Shrine adalah salah satu dari beberapa kuil di Kyoto, yang juga disebut Gion Shrine. Arsitekturnya hampir sama dengan kuil Shinto lainnya. Ohya, festival musim panas di Jepang akan dimulai semingguan lagi, jadi hari itu kami melihat beberapa pemuda dan pemudi berkumpul melakukan persiapan. Di Gion sendiri akan dilangsungkan Gion Matsuri, yang berpusat di Shijo.



Nishiki Market



Hari keempat (4/7/2016) di Arashiyama-Kyoto, kami memutuskan untuk jalan-jalan santai saja di downtown. Hari ini kami berburu Okonomiyaki dan mengobati rasa penasaran kami tentang kuliner di Nishiki Market. Sebelumnya, kami pernah mampir ke Nishiki Market di sore hari, eh ternyata toko-toko kebanyakan sudah tutup. Jadi, bagi kamu yang ingin ke Nishiki Market, sebaiknya sekitar jam 12 karena di jam ini semua toko sudah buka.
Nishiki Market adalah “all in one place to go shopping” di Kyoto. Mulai dari foods, dried foods, fashion, beauty, utilities ada di sini. Tempat ini biasanya jadi andalan kalau ingin berburu oleh-oleh. Selain banyak pilihan, harganya pun cenderung terjangkau.

 
Akhirnya kamipun menemukan tempat makan Okonomiyaki yang representatif di area Nishiki Market, namanya Mr. Young Men. Dengan harga satu porsi rata-rata 800 yen, kami sudah bisa menikmati set Okonomiyaki yang enak dan mengenyangkan. Makan Okonomiyaki, checked!



Selebihnya kami berkeliling retail store di jalanan Shijo dan berakhir dengan satu tentengan besar H&M. Hahahah travelling belum lengkap tanpa shopping kali ya :’) .

Matsuo Taisha


Nggak kerasa hari ini hari terakhir kami di Arashiyama. Di hari kelima ini (5/7/2016), pagi-pagi kami mengunjungi kuil dekat apartemen, Matsuo Taisha. Sekalian kami ingin mencoba DIY Yukata yang sudah saya siapkan. Meskipun modelnya nggak sama persis, tapi tetep cantik lah ketika kami pakai. Berasa orang Jepang meskipun cuma sekejap :D.


Kinkaku-ji Temple



Biar nggak nyesel, kami berusaha memanfaatkan waktu semaksimal mungkin mengunjungi semua tempat “wajib” di Kyoto. Sebelum pulang, kami mengunjungi tempat wisata terakhir, Kinkaku-ji Temple. Hari ini saya juga ketemu saudara sepupu yang kebetulan sedang tugas ke Osaka. Sekalian aja saya seret ikut ke Kinkaku-ji.


Kinkaku-ji adalah kuil Budha yang sangat populer dan termasuk yang paling ramai. Kinkaku-ji yang berarti paviliun emas adalah kuil yang berlapis emas yang di bangun di tengah kolam besar. Arsitekturnya memang cantik dan megah, nggak heran kalau kuil ini selalu ramai dipenuhi wisatawan.




Sebelum kesorean, kami segera menuju Kyoto St. untuk mengejar kereta cepat ke Kansai International Airport (KIX). Semingguan ini benar-benar fun dan memorable. Banyak jalan, banyak melihat kebiasaan orang-orang Jepang, banyak mengamati sistem dan tata kota di Jepang, banyak foto-foto dan banyak belanja juga, hahaha. Sebenarnya masih ada beberapa daerah yang belum dikunjungi dan to do list yang belum kesampaian. Mudah-mudahan nanti saya punya kesempatan lain untuk bisa kembali mengunjungi Jepang.


See you on another hello!



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Monday, August 8, 2016

Left My Heart in Kyoto #GianinJapan Travel Diary Part 2


Hari ini (1/7/2016) saya bangun di apartemen sewaan via Air BnB lumayan siang setelah tidur beralaskan futon (tempat tidur Jepang yang bisa dilipat) untuk pertama kalinya. Padahal kedua travelmates saya pagi-pagi udah longrun ke Arashiyama park.

Prioritas kami hari ini adalah mengisi kulkas dengan stock makanan sehat. Jadi kami wisata supermarket dulu ke Daiso dan pulang-pulang membawa ini...


Belanjaan kami untuk kira-kira dua hari ini sama harganya dengan bill makan ramen semalam. See? Tips dari saya kalau mau tinggal lumayan lama di Jepang, mendingan masak. Ya nggak tiap hari juga, kalau bosan bisa diselingi jajan di luar. Mengingat harga bahan makanan di sini (Kyoto) lumayan murah. Ada yang bahkan lebih murah dari supermarket di Indonesia. Cari bumbu masak di sini juga gampang kok, di setiap supermarket pasti tersedia lengkap bumbu baik yang masih mentah (bawang putih, bawang bombay) maupun yang dalam kemasan (merica bubuk, bawang putih bubuk, perasa).

Arashiyama, tempat apartemen kami berada, adalah salah satu daerah yang berada di Kyoto. Dalam trip ini, target kami paling tidak bisa mengunjungi dan mengenal Osaka dan Kyoto. Dan Kyoto menurut saya adalah daerah yang sangat menyenangkan.
Apartemen kami dekat dengan stasiun dan halte bus, kalau ke halte bus cukup dua menit berjalan kaki ala Jepang. Dari halte terdekat (Umezunishiuracho St.) ke downtown (kawasan perbelanjaan dan tourist spot di Kyoto, yaitu di Shijo Kawaramachi) kami tinggal naik bus nomor 3 sekitar 15-20 menit.


Kyoto nggak seramai Osaka, dan daerah ini budaya Jepangnya masih terasa kental. Hampir di setiap sudut wilayah dan dalam jarak yang berdekatan kita bisa melihat temples  dan shrines. Temple adalah istilah yang digunakan untuk kuil agama Budha, sementara shrine adalah istilah untuk kuil agama Shinto.
Nah, selama beberapa hari dari tanggal 1 sampai 4 Juli, kami berencana menghabiskan waktu di Kyoto untuk “living like locals” dan mengunjungi beberapa temples maupun shrines yang iconic di Kyoto. Selain itu, kami juga akan mengunjungi tempat-tempat “wajib” lainnya di Kyoto.
Dan berikut ini tempat-tempat yang berhasil kami kunjungi.

Kiyomizudera Temple



Dari Shijo Kawaramachi, kami ganti bus sekali menuju halte Kiyomizudera. Kami sampai sana udah lumayan siang karena kami memutuskan masak makan siang dulu di apartemen. Setelah dua hari gloomy akhirnya musim panas mulai terasa. Hari itu cerah dan lumayan panas. Dari halte kami berjalan sekitar 15 menit menuju Kiyomizudera.
Kiyomizudera Temple letaknya di atas bukit, didesain sedemikian rupa sehingga terlihat melayang. Lumayan susah mengambil foto yang oke karena teknik fotografi saya yang seadanya dan lewat tengah hari posisi matahari sudah nggak bersahabat (untuk ambil foto kuilnya backlight parah). Ternyata di sekeliling kuil ini ada banyak kuil-kuil Shinto. Ada satu kuil yang banyak didatangi untuk memohon jodoh/kelancaran kehidupan percintaan. Tenang, udah saya doakan kok!
Saya juga sempat mencoba berdoa sambil mengelilingi bawah tanah kuil, yang awalnya saya pikir horor. Kami sampai coba dua kali sambil mencoba menghitung pegangan yang seperti genitri apa jumlahnya 108.


Di Kiyomizudera banyak wisatawan yang menyewa yukata untuk bisa merasakan pengalaman layaknya orang lokal. Orang Jepang memang biasanya memakai yukata jika melakukan doa di kuil. Saya pengen sih, tapi jadi mikir-mikir lagi setelah tahu harganya 3000 yen. Hahaha benar-benar tourist kere yang perhitungan ya!

Fushimi Inari Taisha



Hari kedua di Kyoto (2/7/2016) kami berencana ke Fushimi Inari Taisha. Masih menggunakan bus, kami naik bus arah Stasiun Kyoto (Kyoto St. kalau nggak salah nomor 26) kemudian ganti bus ke araf Fushimi Inari. Fushimi Inari Taisha adalah kuil Shinto yang terkenal dengan gerbang-gerbangnya. Kalau ada foto travelling Kyoto menampakkan gerbang merah yang tersusun dengan rapi dan cantik, nah itu dia Fushimi Inari Taisha. Gerbang kuil atau disebut dengan “tori” di Fushimi Inari Taisha jumlahnya ribuan, yang ada di sepanjang jalan menuju ke Gunung Inari, tempat kuil ini berada.


Gunung Inari memang nggak terlalu tinggi, hanya 233 meter di atas permukaan laut, tapi lumayan berasa juga waktu kami hiking sampai puncak.
Oh ya, waktu mengamati tori-tori di sini, saya penasaran apa sih yang ditulis di tiap-tiap tori? Ternyata, itu adalah nama dari penyumbang pembangunan tori tersebut.
Di sini wisatawan lebih sedikit dibandingkan dengan Kiyomizudera, saya lihat banyak orang lokal berdoa menggunakan yukata since that day was Sunday. Soooo beautiful!

bersambung ke part 3


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+