HOME      ABOUT      CONTACT      INSTAGRAM
Showing posts with label Foods and Drinks. Show all posts
Showing posts with label Foods and Drinks. Show all posts

Saturday, December 12, 2015

Weekend Gateaway #2 : Tjikini Sedap Rasa Sagala


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api,
Yang menjadikannya abu.

Aku Ingin
Sapardi Djoko Damono

Saya tersenyum ketika membaca bait puisi yang tertera pada menu di kedai itu. Sore menjelang malam, akhirnya saya dan teman-teman mampir di Tjikini Sedap Rasa Sagala (orang-orang suka menyebutnya Tjikini Cafe / Kedai Tjikini / Tjikini 17). Kedai ini terletak di Jalan Cikini 17, pada deretan cafe-cafe bergaya vintage . Malam itu malam minggu, kami memutuskan untuk mendapatkan quality time kami di kedai yang bangunannya membawa saya kembali ke masa-masa konolialisme. Saya sebut kedai karena interiornya sederhana, tapi sukses menimbulkan kesan nyaman.


Kenapa Tjikini Sedap Rasa Sagala?
Tjikini bisa menyediakan hampir semua syarat yang diajukan ketika kita ingin memilih tempat hangout. Adalah tempat bagi mereka yang suka kesendirian sambil menikmati suasana kedai vintage yang nyaman, tempat bagi mereka para pencinta kopi, tempat para sahabat yang menghabiskan waktu menceritakan nostalgia sambil ngemil jajanan tradisional, sampai menjadi tempat para eksekutif muda melepas suntuk dengan berbagi lelucon selepas jam kantor.

The foods and beverages are...
Tjikini menyediakan mulai dari kopi dari berbagai daerah, teh, sampai minuman tradisional seperti wedang jahe dan kunyit asem. Untuk makanan seluruhnya adalah makanan khas Indonesia, beserta kudapan-kudapan yang rasanya cukup enak.  

Must bring items...
Notebook to write your stories, book and ipod when you want to make a little peace in mind, and camera! to take some pics.

Will go back?
YES!


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Sunday, December 6, 2015

Weekend Gateaway #1 : How Far Can You Go?


Bicara tentang bepergian, secara umum ada dua tipe orang. Pertama, yang pergi dulu baru memikirkan rencananya bagaimana dan apa yang mau dikerjakan, dan kedua , yang perlu waktu lama untuk menyusun rencana sebelum memutuskan untuk pergi.

Saya adalah tipe orang kedua. Meskipun suka mengikrarkan diri sebagai orang yang spontan, tapi kenyataan jauh berbeda dengan ekspektasi. Bepergian, berlibur, adalah hal yang akan saya persiapkan dari jauh-jauh hari. Butuh alasan yang sangat kuat bagi saya untuk memutuskan pergi. Bepergian tanpa rencana yang matang? Hampir bisa dipastikan saya akan batal berangkat.

Hal yang nggak biasa terjadi dua weekend yang lalu. Saya membuat keputusan tanpa berpikir rumit berhari-hari seperti biasanya untuk pergi ke Bandung lalu ke Jakarta. I repeatedly told myself, “I have to do this!” Dari Surakarta saya menempuh hampir enam jam sebelum akhirnya sampai di Bandung saat matahari sudah terbenam. Waktu perjalanan yang cukup lama mengingat besok paginya saya sudah harus kembali lagi ke Jakarta. Ngapain semalam saja di Bandung?

Ini kali pertama setelah sekian lama saya mengambil keputusan tanpa berpikir terlalu ribet. Ketika ditanya kenapa, saya nggak bisa mencari-cari alasan penting agar semua ini masuk akal. Saya hanya bilang “because I wanted to! And there were friends that miss me and I wanted to meet them so bad”. “For the sake of my happiness”. Percaya atau nggak rasanya menyenangkan. Sekali-kali bukanlah ide yang buruk untuk melakukan sesuatu tanpa berpikir rumit dan merencanakan terlalu banyak.


Minggu pagi kami habiskan dengan brunch di Two Hands Fvll coffee, sebuah breakfast-cafe and coffee shop yang cukup populer di Bandung. Buka dari jam 07.00 - 20.00, tempat ini menawarkan konsep yang warm and homey. Berlokasi di Jalan Sukajadi 198A Bandung, sedikit susah menemukan tempat ini karena selain menurut saya dari luar tampilannya kurang tampak seperti coffee shop juga tertutupi oleh kendaraan-kendaraan yang terparkir di depannya.


How're the foods? B.O.C #breakfastofchampion, Dong Ding Tea, a slice of Oreo Layer Cake, overall they're good! Berhubung ada sebagian makanan yang menggunakan bacon, just in case yang dalam kepercayaanmu haram, sebelumnya kamu bisa request untuk menggantinya dengan yang halal.

Tentu saya akan merekomendasikan Two Hands Fvll Coffee sebagai salah satu tempat brunch yang wajib didatangi. Terutama untuk orang-orang seperti saya yang selama ini susah banget mencari tempat breakfast yang enak dan nyaman sekalian menghabiskan waktu di pagi hari. Selain Foods and Beverages yang enak, tempat ini memberikan kesan homey yang bikin saya betah berlama-lama disana. Setiap sudutnya juga menarik bagi kamu yang hobi food-photography atau selfie(?). Tempat ini bisa jadi salah satu alternatif untuk meeting, reuni, mencari inspirasi untuk tugas-tugas yang menumpuk (wifi available!), atau sekadar mengobrol santai bersama sahabat. Harganya? Reasonable, IDR 50.000 - 100.000 per person.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Wednesday, November 25, 2015

Rumah Teh Ndoro Donker : Make Tea, Make Time, Make Talk


“A cup of tea would restore my normality."

[Hitchhiker's Guide to the Galaxy, Screenplay]"
 
Douglas Adams

Berbeda dengan kebanyakan teman saya yang merasa belum lengkap kalau memulai hari tanpa secangkir kopi, saya lebih memilih menjadi seorang “tea-person”. Bukan berarti saya minum teh setiap hari, hanya saja saya lebih menikmati teh daripada kopi.

Beberapa waktu lalu saya menghabiskan akhir pekan di Rumah Teh Ndoro Donker, yang berlokasi di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, kurang lebih satu jam perjalanan dari Surakarta ke arah Cetho. Berbeda dengan coffee shop, tea house memang lebih tidak populer dan jarang dijumpai di tengah kota. Budaya minum teh mungkin dirasa sangat kuno dan tidak menarik.

Di Indonesia sendiri, tradisi minum teh sebetulnya telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Teh pertama kali dibawa ke Indonesia oleh Dr. Andreas Kleyer (Dutch) sebagai tanaman hias. Awalnya memang tradisi minum teh hanya dilakukan oleh kaum bangsawan, namun seiring berjalannya waktu, kebiasaan minum tehpun meluas di masyarakat. Salah satu yang menjadi tradisi di Indonesia adalah Teh Poci, tradisi minum teh yang diseduh di poci dengan ditambahkan gula batu tanpa diaduk. [Sumber]

Rumah Teh Ndoro Donker dikelilingi oleh perkebunan teh yang menyejukan pandangan mata. Rumah teh di daerah pegunungan adalah kombinasi yang sangat memuaskan dan nagih. Selain pemandangan yang indah, udara yang segar membuat saya betah berlama-lama disana. Kebetulan juga waktu saya kesana sedang turun hujan. Nggak deras, tapi cukup untuk menciptakan suasana romantis. Teh, buku, hujan rintik-rintik, teman, dan obrolan hangat, this is too good to be true!


Teh yang disajikan di Ndoro Donker ada beberapa macam. Mulai dari yang biasa, special tea, sampai premium tea. Kita bisa membeli per cup atau satu tea-pot. Favorit saya adalah Earl Grey Tea (teh hitam yang diberi minyak bergamot), aromanya kuat dan rasanya enak! Selain teh, disediakan juga makanan berat seperti sop buntut, ayam bakar, dan beberapa kudapan tradisional teman minum teh. Surprisingly, the price is very affordable! Rata-rata harga teh hanya Rp15.000 – 20.000 per cup atau Rp45.000 – 60.000 per pot. Untuk makanan harganya mulai dari sepuluh ribu rupiah.

Such a nice place to make peace of our mind on weekend. I’ll defininety go back again! 

Rumah Teh Ndoro Donker
Jalan Afdeling Kemuning 18
Karanganyar-Surakarta
Telp. 085879794235 atau 082136510600


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+