HOME      ABOUT      CONTACT      INSTAGRAM

Saturday, November 5, 2016

Love, Life, LDR


My 7 Years Long Distance Relationship,
and still counting...

Banyak yang bilang saya dan Bli Indra ini LDR expert. Gimana nggak, tujuh tahun pacaran, hampir seluruhnya kami jalani dalam long distance. Kalau ditanya nggak enak, pasti iya. Nggak ada istilah malam minggu sama pacar. Yang ada malam minggu sama telepon. Iya sih, pacar yang baik pasti selalu ada (meskipun LDR) , tapi kalau butuh bantuan mendadak, terpaksa menghubungi teman yang ada deket-deket kita dulu kan. Yang jadi pertimbangan lagi, high cost! Tapi ini kalo dikonversi mungkin masih sebanding sih dengan -deketan tapi makan bareng di luar hampir setiap hari.

Selama kami pacaran, banyaaaaaakkkk banget masalah yang muncul. Jangan dipikir hubungan kami baik-baik terus, adem ayem, dan tanpa masalah. Salah besar! Lucunya, kadang masalah yang sama bisa kami alami berulang-ulang. Sampai frustasi, kok gini-gini terus masalahnya. Perasaan kemarin udah sepakat solusinya, eh sekarang kejadian lagi.

Masalah-masalah LDR klasik yang sederhana sih, misalnya manajemen waktu. Pas saya nggak sibuk, eh dia sibuk. Pas dia lagi butuh perhatian, sayanya yang banyak kerjaan. Masalah berikutnya bosan. Jangan bohong deh, yang namanya menjalani hubungan (apalagi udah lama) pasti kadang pernah muncul rasa bosan. Manusiawi kok. Lalu ada lagi masalah komunikasi dan persepsi. Susah banget lho membayangkan ekspresi dan menebak suasana hati lawan bicara (suasana hati kita juga!) kalau ngobrol via telepon. Jangan kaget kalau sering muncul salah paham. Karena nggak ketemu langsung, kadang kami suka salah nebak maksud masing-masing, trus war deh.

Tapi syukurlah kami lebih suka fokus ke keuntungan menjalani hubungan LDR. Pertama, kami lumayan gampang mendapat me time. Kalau saya sih nggak suka sama istilah "pacaran serasa dunia milik berdua". Saya masih tetap ingin punya waktu sendiri untuk menjalani hobi atau main bareng teman-teman. Saya rasa Bli Indra juga begitu. Selain dia memang memberi saya kebebasan asal bertanggungjawab, LDR malah bikin saya enjoy. Kedua, karena LDR kami jadi lebih menghargai waktu dan kebersamaan. Terakhir, LDR lebih mendewasakan saya dalam hubungan, mengajarkan saya untuk lebih mendengar, sabar, dan lebih peduli!

Lucu banget kalau mengingat awal-awal pacaran yang full of mess banget. Hampir setiap minggu kami bertengkar untuk hal-hal yang sepele. But we did it!

Akhirnya menjawab pertanyaan-pertanyaan, "Masih pacaran?", "Kok tahan sih?", "Cicilan belum lunas?", sampai ke pertanyaan yang agak kurang ajar "Buat apa pacaran (punya pacar) tapi jauh nggak bisa ada kalau kita butuh?"

Semua balik lagi ke pilihan sih ya. Dan saya pribadi nyaman, dan memilih berkomitmen menjalani ini. Kalau ada yang nanya tipsnya apa, mungkin beberapa hal ini wajib jadi perhatian kalau kalian sedang menjalani LDR.

·   TRUST. Menjalani LDR sangat sangat butuh kepercayaan. Nggak usah deh mengkhawatirkan hal-hal yang sebenarnya mungkin nggak pernah terjadi. Percaya dan juga menjaga kepercaan pasangan kita.
·    FREEDOM. I have and live my own life and so do he. Tapi kebebasan disini maksudnya yang bertanggungjawab. Pacaran, apalagi LDR jangan sekali-sekali deh merasa memiliki dan mengatur semua hidup pasanganmu. Just enjoy! Hubungan yang baik itu bukan saling mengekang, tapi saling menguatkan dan memotivasi.
·    NO CLUES, TALK DIRECTLYNah, yang ini kayaknya udah sering banget dibahas di berbagai forum. Terutama cewek-cewek, jangan suka kasi kode atau mancing. Sampaikan saja maksud kita dengan jelas dan terus terang. Meskipun awalnya susah, tapi we have to try.
·     TIME MANAGEMENT. Ini pelajaran paling susah buat saya. Awal-awal LDR, saya masih suka egois dan kurang menghargai waktu. Berusahalah saling menyediakan waktu untuk sekedar menanyakan kabar, menceritakan hal-hal yang sangat biasa, atau update kegiatan. Karena seberapapun kecilnya hal yang kamu alami, pasangan pasti selalu ingin dan berharap untuk tahu.

Mudah-mudahan bisa memberikan sedikit gambaran, syukur-syukur bisa memotivasi para pejuang LDR. LDR bukan malapetaka kok. Dan mohon doanya karena memasuki tahun kedelapan, we're going to marry!

MUA & WD : @tirta_harum
Photographer : @maxhelar




Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Friday, October 14, 2016

What's Inside My Sociolla Pink Box : Wardah C-defense DD Cream


Belakangan ini sepertinya saya lagi jodoh sama Wardah. Setelah fun beauty class bulan Agustus lalu dan sukses penasaran sama Exclusie Matte Lip Cream-nya (will review soon!), di bulan September Sociolla mengirimkan a Wardah brand-new-product, Wardah DD cream.


Wardah C-defense DD Cream ini adalah krim vitamin C yang merupakan kommbinasi lightening cream, sunscreen, dan krim antioksidan. Ini adalah beberapa kelebihan yang diklaim oleh si Wardah DD cream :
·         Mengandung Vitamin B3 yang membantu membuat kulit tampak lebih cerah
·         Mengandung Vitamin E sebagai antioksidan
·         Mengandung Allantoin yang membantu regenerasi kulit
·         SPF 30 membantu memberikan perlindungan optimal terhadap sinar UV

Penasaran, saya coba rasakan teksturnya di tangan. Awalnya saya pikir Wardah DD Cream ini adalah hanya krim pelembab, tapi ternyata penampakannya lebih mirip BB cream. Teksturnya ringan, hampir sama dengan liquid foundation/BB cream. Dan saya baru sadar ada shade-nya (light dan natural)! Kebetulan yang saya dapat ini shade “light”, tapi masuk ke warna kulit saya yang yellow undertone.


Saya memang belum berencana menggunakannya untuk daily routine, tapi saya rasa produk ini aman untuk digunakan sehari-hari karena produk-produk Wardah sudah terbukti kualitasnya dan formulanya disesuaikan dengan kulit orang Indonesia. Produk ini saya rasa cocok sebagai opsi kalau kamu ingin mencoba coverage ringan untuk pemakaian sehari-hari, apalagi sudah komplit dengan Vitamin C (pencerah), antioksidan, dan SPF.

Kalau mau beli produk ini bisa langsung ke counter Wardah atau kalau mau cara mudahnya bisa lewat Sociolla. Spesial buat kamu yang baca postingan ini, saya punya IDR 50.000 shopping voucher yang bisa digunakan untuk pembelian pertama (transaksi minimal IDR 250.000). Cukup masukkan kode SBNLA7FL saat checkout. 


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Saturday, September 10, 2016

Dermavita Facial : "Experiencing The Miracle Touch"


Saya, bisa dibilang adalah orang yang akan berpikir ribuan kali kalau disarankan untuk facial treatment di klinik kecantikan. Selama ini saya hanya melakukan ”extra treatment” sendiri di rumah. Ya facial sederhana ala saya, scrubbing dan masking, seperti yang pernah saya ceritakan di sini. Entah kenapa saya kok ogah ke klinik kecantikan. Sepertinya saya kebanyakan mendengar isu-isu negatif tentang facial treatment. "Katanya" sih kalau habis treatment kulit malah jadi sensitif dan bermasalah. 

Dulu banget, saya pernah melakukan facial treatment di salah satu klinik kecantikan dan memang setelah perawatan saya nggak merasakan manfaat yang signifikan (komedo masih sisa, tekstur kulit nggak halus). Malahan wajah saya jadi merah-merah.

Sebelumnya, saya ngerasa aman-aman saja nggak melakukan perawatan ekstra untuk kulit wajah. Tapi belakangan ini saya baru sadar kalau komedo saya udah nggak mempan lagi kalau diusir dengan treatment sendiri di rumah. Kulit di usia seperempat abad juga udah mulai gampang kusam. Dan (OH NO!) freckless saya udah mulai kelihatan dong!


Kebetulan setelah event #20Miracle kemarin, saya berkesempatan mencoba facial treatment dari Miracle. Dari yang awalnya pesimis, saya pun jadi yakin karena dalam campaign Miracle ditekankan kalau aesthetic clinic ini menggunakan teknologi yang mutakhir dan sangat mengutamakan alat yang steril dan proses yang higienis.

Facial treatment yang saya coba adalah Dermavita Facial, treatment dasar untuk semua jenis kulit (bahkan yang sensitif sekalipun!). Sampai di Miracle clinic saya langsung di asistensi oleh receptionist yang nggak membiarkan saya menunggu lama. Ohya FYI staff-staff di Miracle Clinic sangat ramah lho! Dengan sabar mereka akan menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita. Setelah proses administrasi selesai, saya menunggu kurang lebih 5 menit kemudian dijemput therapist saya hari itu untuk langsung mencoba Dermavita Facial.

Therapist saya hari itu, Mbak Wina, is very helpful! Saya banyak nanya, minta tolong ini itu, tapi Mbak Wina tetap ramah dan baik hati. Dia juga memberikan saya rekomendasi treatment-treatment selanjutnya yang bisa saya ambil.


Dermavita Facial yang saya lakukan terdiri dari beberapa step. Tapi sebelumnya saya diminta mengaplikasikan antiseptik pada tangan kalau-kalau nanti pegang wajah, agar steril.
Pertama, wajah saya dibersihkan menggunakan cleanser dan dilanjutkan dengan toner. Kedua, wajah saya dipijat dengan face massage cream. Nyaman dan enak banget! Best face massage I've ever had! Kemudian dilakukan scrubbing yang tujuannya untuk mengangkat sel kulit mati. Setelah scrubbing dilanjutkan dengan steaming (penguapan) untuk membuka pori-pori kulit. Tujuannya agar nanti pas ekstraksi komedo lebih gampang. Ekstraksi komedo yang saya pikir menyakitkan ternyata sangat nyaman. Duh! Jangan-jangan saya nanti ketagihan. Saya juga tanya-tanya Mbak Wina apa komedo saya mengkhawatirkan, dan ternyata nggak banyak. Yeay! Ada satu jerawat bandel juga di dagu yang dengan sukses dihandle Mbak Wina.

Setelah ekstraksi komedo, wajah saya ditreatment dengan alat high frequency untuk menenangkan kulit dan mempercepat normalisasi kemerahan pada kulit. Rasanya kaya disetrum-setrum kecil, dan ada rasa cekit-cekit sedikit pada bekas area ekstraksi komedo yang masih terbuka.
Selanjutya wajah saya dimasker. Enaaaaakkkk banget rasanya. Dingin dan langsung memberikan sensasi nyaman pada kulit wajah saya. Setelah kira-kira 20 menit masker kemudian dibersihkan. Lalu wajah saya diolesi calming lotion, serum (saya order Aloe Vera serum sebagai tambahan), dan sunblock. That's all. Kurang lebih menghabiskan waktu selama satu setengah jam.

Wajah saya langsung berasa lembab dan segar. Kayaknya saya udah ketagihan, langsung nggak sabar balik lagi ke Miracle untuk coba treatment lain. Akhirnya saya sadar kalau extra treatment untuk kulit wajah penting dilakukan secara rutin. Meskipun nggak pakai full make up setiap hari, tapi saya nggak pernah lepas  dari yang namanya bedak. Penting untuk melakukan treatment agar sisa-sisa kotoran yang tertinggal nggak bikin masalah baru pada kulit. Jadi kulit bisa bernapas lega dan bisa beregenerasi dengan baik.

Mbak Wina and me with truely no makeup look after Dermavita Facial
Cantik itu memang butuh perjuangan. Tapi kalau di Miracle perjuangannya jadi menyenangkan!



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+